LIVING IN FRANCE

Living in France 101 : Our First Pregnancy Story, Pengalaman Hamil Saat COVID di Prancis #1

Setelah absen sekian bulan, akhirnya bisa balik nulis dan update cerita mengenai kehidupan ku di Prancis lagi! Seperti yang sudah bisa kalian baca dari judulnya, sebenarnya bisa dibilang ini merupakan salah satu alasan aku sebentar-sebentar menghilang beberapa waktu ini. Karena alhamdulillah aku sedang mengandung 32 minggu atau masuk bulan ke-8, it’s such a blessing and miracle for us!

Sebenarnya ini adalah kali pertama aku mengumumkan kehamilan ku virtually! Selama ini yang tahu aku sedang hamil hanya keluarga besar dan beberapa sahabat terdekat aja. Kenapa kok gitu? Awalnya sih cuma mau keep berita bahagia ini sampai trimester pertama, tapi ternyata ‘enak’ juga ya kalau gak terlalu banyak yang tahu, aku merasa jadi lebih fokus dengan kehamilan ku sendiri, terpenting aku jadi bisa enjoy melakukan hal-hal yang aku suka dan mengeksplor kegiatan baru. Lebih apa ya? Kayak lebih ZEN menjalani kehamilan tanpa drama atau mendengarkan mitos-mitos hamil yang biasa dilontarkan oleh orang-orang di sekeliling kita (yang biasanya cuma bikin bumil jadi more anxious tanpa kita sadari), siapa setujuuu?

Tapi kan bukannya semakin banyak orang yang tahu, jadi semakin banyak yang doain?

Iya, ada benarnya juga. Tapi aku yakin, doa-doa tulus dan baik dari siapapun itu yang sudah mengetahui kehamilan ku, insya Allah, Allah SWT tetap akan mendengar dan mengijabah satu per satu doa kami. Dan, semoga Allah juga membalas semua doa dan kebaikan kalian! Amin.

Oke, aku akan mulai cerita mundur sedikiiit ya.

*

Ternyata kehamilan pertama ini bisa dibilang lumayan berat untuk aku, ‘berat’ disini bukan as in ‘beban’ ya, tapi lebih kepada proses awal kehamilan yang aneh dan membingungkan, buat aku yang memang belum pernah merasakannya. Tentu, kami bersyukur bangeeet, karena memang ini salah satu goals saat memutuskan untuk menikah pada tahun 2018 lalu. Meskipun, sejujurnya tahun pertama ku tinggal di Prancis, aku memutuskan untuk beradaptasi terlebih dahulu dengan kehidupan baru kami di sini. Goal utama ku saat itu sederhana aja, yaitu bisa berkomunikasi dengan bahasa Prancis meskipun hanya percakapan sehari-hari dengan keluarga, tetangga, kolega, dll (intermediate interaction). Karena aku ngerasain banget, saat beberapa bulan pertama di sini, menyiksa banget rasanya saat aku belum bisa komunikasi dengan bahasa Prancis.

Percayalah, menikah dengan seseorang yang berbeda budaya dan bahasa, apalagi tinggal di negara baru itu bukanlah hal yang mudah. Banyaaak yang harus kami pertimbangkan dan pikirkan. Suami juga saat itu bilang, kalau belum siap untuk memiliki anak karena satu dan lain hal, terutama kita harus beradaptasi dengan keadaan finansial setelah berumahtangga. Jadi, setahun pertama kami memutuskan, “yuk, kita sama-sama beradaptasi dengan kehidupan baru! Enjoying our pacaran time, puas-puasin traveling!”

Which we really did it~at least, before C19 hits us very hard!

Orang tua kalian gimana?

Disini lah aku merasakan bedanya memiliki orang tua yang berbeda kultur ya. Kalau dari mertua dan anggota keluarga suami lainnya, sejak kami menikah gak ada sedikit pun pertanyaan atau desakan ‘kapan mau punya anak?’ OR ‘ayo dong punya anak!’. Sama sekali engga. Mungkin karena mereka mengerti ya kalau itu hal yang sangat privasi dan sensitif sekali untuk setiap orang maupun pasangan.

Lain cerita dengan orang tua ku, dari sebelum nikah aja udah didesak ‘langsung punya anak aja nanti, gak usah ditunda-tunda…’ padahal kan yang menjalani, membiayai dan membesarkan anak nanti kami berdua ya? Emang salah kalau kami mau mencoba untuk melakukan perencanaan yang lebih matang untuk masa depan kami? Terlebih, kita semua tahu, punya anak tanggung jawabnya besar banget, dunia akhirat! Apalagi di sini kami harus melakukan semuamuanya sendiri dan kita juga tinggal di kota dan wilayah yang berbeda dengan keluarga suami. Bertemu dengan keluarga suami juga paling cuma 2-3 kali dalam setahun.

Dan sejujurnya, awalnya aku gak cerita kalau kami berencana untuk ‘menundanya’ ke orang tua. Saat itu aku mikirnya, challenging banget kalau harus menceritakan seara detail kenapanya. Bisa beratus-ratus episode, hehe. Nanti pasti dinasihatin panjang-lebar. Bukannya enggak mau dinasihatin ya, tapi terkadang mindset orang tua kita masih suka terjebak dengan situasi dan masa lalu mereka. Bener gak? Misal, “jangan takut gak ada rejeki, namanya punya anak mah pasti ada aja rejekinya” atau yang paling obviously rancu di kehidupan saat ini “banyak anak banyak rezeki!” WOW~ hmmmm… aku sih gak serta-merta menelan bulat-bulat kalimat itu. Karena di sini semua serba mahal, memang kami juga mendapatkan beberapa privilege dari pemerintah Prancis untuk beberapa hal, tetapi kami juga gak mau memiliki anak sekadar menjadikan mereka ‘investasi masa depan’ kami. If you know what I mean?!

Bahkan setelah setahun lebih kami menikah dan masih ‘kosong’, gak jarang orang tua ku meminta aku untuk memeriksakan kandungan, “ke dokter aja, nanti juga dikasih obat penyubur! program hamil aja sekalian” de el el nya. Ya memang gak ada salahnya ngecek, tapi kalau untuk melakukan program hamil khusus? Saat itu aku berpikir, kayaknya that will be our very last resort. Insya Allah kalau rezeki, Tuhan pasti ada aja kasih jalannya. Jadi, kami memutuskan tetap mau yang alami-alami aja.

Jadilah, tahun pertama tinggal di Prancis, aku mencoba beradaptasi dengan lingkungan, bahasa, kebudayaan, keluarga, makanan dan iklim/cuaca di sini yang ternyata juga gak mudah. Aku yang seumur-umur gak pernah ada alergi apapun, sampai di sini tetiba sering kena alergi~ Pokoknya masalah kulit tuh, numero uno dan paling sering terjadi selama tinggal di sini.

Long story short. Pertengahan tahun 2020, tepatnya setelah aku tahu kalau aku lulus dan sudah mendapatkan sertifikat bahasa Prancis level B1 dengan hasil yang sangat memuaskan, kami mulai lagi diskusi tentang apa yang harus kita lakukan di beberapa tahun ke depan, termasuk mengenai anak! Bahkan aku mulai banyak riset kayak makanan apa yang bagus untuk kesuburan, makanan apa yang harus dikonsumsi jika ingin memiliki anak laki-laki & perempuan, etc etc. Dan suami pun juga sudah terlihat lebih siap dan antusias dalam mendiskusikan hal tersebut.

Sampai ada satu momen, bulan Juli 2020 lalu, siklus haid mulai aneh. Aku mengalami menstruasi yang gak sewajarnya. Siklus sampai 40 hari dan aku cuma flek atau bercak merah aja, gak banyak dan gak sakit perut kayak menstruasi biasanya. Aneh kan? Setelah Googling sana-sini, akhirnya ku berkesimpulan & memberanikan diri untuk pertama kalinya beli pregnancy test sampai beli 2 alat dengan brand berbeda yang terkenal keakuratannya.

Hasilnya? Negatif.

Ternyata melihat test pack yang hasilnya negatif untuk pertama kalinya tuh lumayan drop ya?

Padahal dari awal udah nyoba pasang mindset, nothing to lose aja.

Apa karena itu pengalaman pertama ya? Maybe. Aku jadi sempat sedih dan uring-uringan, meskipun suami tetap menyemangati. Tapi namanya juga Gemini, mulai deh overthinking kemana-mana. Dari yang negative thoughts, apa ini karena kita memutuskan untuk menunda setahun ya, makanya beneran gak dikasih? Tapi terkadang juga berpikir, “oh, mungkin karena kondisinya lagi COVID ya, jadi Allah belum kasih aku kesempatan sekarang? Kebayang ribet ngurus kehamilan lagi masa-masa begini.” Karena ada beberapa teman ku yang hamil + menderita COVID beberapa waktu lalu, jadi aku sempat berpikir seperti itu.

FYI, sejak dulu sampai sudah menikah, jadwal menstruasi ku itu bisa dibilang selalu tepat waktu. Kadang maju cuma 2-3 hari, mundur pun juga sekitar 2-3 hari aja. Karena, aku takut ada apa-apa, jadi kami memutuskan untuk ke RS. Di rumah sakit kota kami tinggal, ada yang namanya emergency room khusus obgyn yang beroperasi juga saat weekend. Setelah kami cek, dokter pun memeriksa keadaan rahim dengan USG transvaginal (ini pengalaman pertama banget buat aku, ketika miss V ku harus ‘dikobok-kobok’ sama dokter obgyn), untuk cek serviks dll, juga ambil darah, bersyukurnya semua hasilnya normal, tetapi dokter sempat bilang kalau engga ada tanda-tanda darah menstruasi, alias udah bersih. Jadi, kemungkinan si flek dan bercak merah ku kemarin yang cuman 3-4 hari itu adalah menstruasi ku yang sudah keluar.

Anehnya, setelah bulan Juli itu menstruasi ku jadi makin tidak teratur dan aku jadi sulit untuk memperkirakan masa subur. Biasanya kan aku mengandalkan aplikasi menstruasi yang juga bisa mengukur masa ovulasi, tapi siklus ku setelah bulan Juli jadi berantakan, bisa 40 hari lebih baru dapet. Sampai-sampai aku berpikir apa mungkin karena pola makan dan kegiatan ku ada yang salah ya? Ada yang harus dibenarkan?

Jadilah, aku olahraga sedikit dengan menerapkan jalan dari 5.000 – 10.000 langkah per hari sampai mengatur pola makan sehat. Suami pun aku berikan catatan untuk mengonsumsi beberapa makanan khusus yang aku dapatkan dari hasil riset di Mbah Google~ lol. Catatan itu sampai aku tempel di depan kulkas kami, biar menjadi pengingat.

Aku juga mencoba ‘komunikasi’ dengan rahim dan tubuh ku sendiri, kalau insya Allah aku siap secara fisik, mental dan batiniah untuk mengandung dan melahirkan anak ku kelak, juga tentu membesarkannya. Selain itu, ya tentu berdoa kepada Allah SWT di setiap shalat wajib & sunnah. Aku catat doa ku sedetail-detailnya di buku jurnal, untuk terus ku baca setelah shalat. Doanya benar-benar sedetail mungkin, bahkan aku spesifik sekali menyebutkan preferensi jenis kelamin untuk anak pertama kami. Namanya juga keinginan dan doa, ya harus detail mintanya dan gak usah malu kalau mau minta dengan Sang Pencipta. Meskipun tentu Allah tahu keinginan hati paling terkeciiil kita, tetapi menyampaikannya secara langsung di setiap doa tentu lebih baik.

Eh, gak taunya… kurang dari sebulan kami kayak udah capek dan cuek aja gitu sama pola makan sehat kami, terutama aku sih… Karena pada dasarnya, suami tuh jauh lebih hidup sehat dibanding aku, karena dia vegetarian! Hehe~ Ada satu momen sekitar akhir November 2020, aku sempat merasakan stress dan overthinking tentang beberapa hal yang mengganggu pikiran. Efeknya itu jadi jelek banget. Dalam seminggu, aku bisa makan mie instan Korea yang super pedas itu seminggu 3x, makan yang goreng-gorengan terus, bikin cilok super pedas dan makan makanan gak sehat lainnya. Saat itu aku berpikir mungkin aku stress kali ya atau mau haid? Karena nafsu makan ku lagi besar banget + saat itu aku udah terlambat haid.

Sampai akhirnya, pertengahan bulan Desember 2020 lalu, aku sempat merasa perut aku super kembung, sakitnya kayak asam lambung ku lagi kambuh. Tidur juga uring-uringan. Maunya tidur tengkuraaaap melulu, karena merasa itu posisi ternyaman. Plus, aku emang punya sejarah sakit asam lambung, ya jadi aku pikir, ‘ah lagi kambuh aja nih, gegara kebanyakan makan pedes!’. Setelahnya, aku juga sakit tenggorokan. Lagi-lagi berpikir, kebanyakan makan pedas. Aku mual selama 3 hari berturut-turut tapi gak pakai acara muntah ya. Ditambah, anehnya aku cuma mau makan buah-buahan, terlebih jeruk atau yang asam-asam. Suami udah mulai curiga sih, dia berulang kali nanya ke aku,

‘tu ne veux pas faire de test de grossesse?’

“Kamu gak mau tes hamil aja?”

Aku menolak. Ya karena aku yakin aja saat itu kalau belum dikasih rezeki hamil. Belum lagi aku takut kecewa kedua kalinya, kalau melihat tes kehamilan menunjukan hasil negatif. Sampai akhirnya, aku merasa ada yang tidak biasa yang aku rasakan di dalam tubuhku. Terus aku nangis mulu kerjaannya. Mual, nangis. Suami pulang telat, nangis. Nonton film apa, nangis. Pokoknya drama queen banget! Akhirnya, suatu hari suami pulang dengan membawa 2 alat tes kehamilan. Begitu pulang kantor, dia bilang:

“Ini aku beli di toko obat dekat kantor.”

“Merk-nya apaan nih? Kok aku gak pernah lihat?” tanyaku.

“Aku beli yang paling murah, itu juga lagi diskon. Lagian, 99% akurat juga, sama kayak iklan produk lain, hehe.”

jawab suami cengar-cengir.

Dalam hati aku ngomong ‘lah ini ngecek buat calon anak sendiri lho, kok malah beli yang murah sih!’ ndumel wkwk.

Karena, jujur sebelumnya aku beli yang brand-nya terkenal bagus di Eropa (di Indonesia kayaknya juga ada deh). Bahkan yang udah teknologi baru, ada screen hasil tes hamilnya beserta jumlah minggu kehamilan~ harganya memang lumayan sih sekitar 10 Euro sendiri.

…dan cuman dipipisin doang sih emang, hehe.

Keesokan paginya, pagi-pagi banget hari Jumat, 18 Desember 2020, akhirnya aku pipis dan melakukan tes kehamilan. Awalnya ragu, langsung pake keduanya gak ya? Akhirnya aku memutuskan pakai 1 aja deh, kalau negatif sayang juga kan jadi kepake dua-duanya (lah, ini pasangan irit banget yak kalau dipikir-pikir wkwk).

Nah, mindset dan ekspektasi ku saat memasuki toilet pada hari Jumat pagi itu, aku rendahkan serendah-rendahnya. Supaya gak sakit-sakit banget kalau hasilnya negatif. Jadi, setelah pipis, menutup si alat tes kehamilan dan menyalakan stopwatch di ponsel, aku masih sempat cuci tangan, cuci muka, bebersih. Awalnya sih kayak, gak usah lihat dulu lah, entar aja nunggu kalau udah 3 menit. Eh, namanya punya mata ya, gak sengaja aja keliatan tuh test pack, aku SYOOOOK BANGET, karena hasilnya garis dua merah! Dan itu dalam waktu < 10 detik aja.

 

Jantung tuh udah kayak mau copot.

“Tenang, tenang, mungkin belum bekerja 100% nih alatnya.” ucapku dalam hati.

Mau gak mau, ini kedua bola mata jadinya ngeliatin test pack! Mau berusaha setenang dan se-cool mungkin kayak enggak bisa. Suami saat itu masih nunggu di kasur, dia udah bangun pas aku bangun bilang mau pipis. Aku udah bolak-balik aja di dalam toilet. Cuci muka lagi. Gitu aja terusss…

Pas lihat ponsel, “Wah, udah 5 menit nih, tapi gak berubah lagi si garis 2 ini! Apa gue beneran hamil ya? Ini alatnya benar gak sih?!”

Ngedumel sendiri dalam hati, masalahnyakan suami beli alat tes kehamilannya yang diskonan ya~ jadi nethink deh bawaannya wkwk.

Moral of the story. Don’t underestimate the cheap pregnancy test, if God wills, then it will happen. No matter how expensive or cheap the pregnancy test is~ lol. Paling enggak di case aku ya.

Begitu keluar dari toilet, badan + tangan gemetaran, terus mewek meluk suami sambil menunjukan hasil test pack-nya. Suami pun juga senang + ikutan terharu. Jantungku berdetak cepat banget, masih gak percaya. Kami pun langsung sholat sujud syukur + subuh. Abis solat sampai gak bisa tidur lagi, padahal rasanya masih ngantuk.

Masih gak yakin, kasih tahu orang tua ga ya? Kasih tau kakak gak ya? Akhirnya kami memutuskan untuk diem-diem dulu, sampai besok hari Sabtu nya kami ke Rumah Sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kenapa besokannya? Simply karena suami harus ngajar aja sih hari itu.

Notes. Biar gak panjang-panjang banget ceritanya, ku bagi ke beberapa bagian ya ceritanya. Semoga gak bosenin! Sambil menunggu cerita keduanya, boleh loh kalau kalian ada yang mau berbagi cerita lucu, senang, sedih, haru, seputar kehamilan kalian di kolom komentar di bawah ini! Terima kasiiiiih~

 

Bisous,

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: