Living in France 101 : Pengalaman Hamil 42 Minggu dan Melahirkan secara Déclenchement di Prancis

Akhirnya bisa bagi cerita lagi, ini pun ngetiknya sambil mangku si kecil tidur. Fyi, draft ini sudah diketik sejak beberapa minggu setelah aku melahirkan! Jadi, emosional pengalaman pertama kali menjadi Ibu nya kayak masih kental dan mengharu-biru! Meanwhile, saat ini usia bayiku sudah 6 bulan 1 hari. Masih sering gak percaya sih, hah udah jadi Ibu nih? padahal selama 6 bulan ini udah mengalami hal-hal yang sedikit sedihnya dan banyak bahagianya~

Ibu-ibu baru pasti bisa relate sama perasaan ku ini.

Alhamdulillah akhirnya anak yang sudah ku kandung selama hampir 42 Minggu, sudah terlahir ke dunia ini dengan selamat, sehat dan cantik sekali! Iya, anak pertama kami perempuan. Beberapa hari setelah melahirkan bahkan sampai dengan saat ini sih rasanya masih aneh ya, masih suka bengong mandangin wajah si bayi, terus tetiba mewek. Lebih terharu karena bahagia sih,

it’s really a magical feeling.

Tuhan tuh Maha Baik ya. Rasanya baru kemarin doa kalau aku pengin sekali punya anak pertama perempuan yang cantik, kuat, sehat dan shalehah. Eh, sekarang anaknya udah ada di depan mata kepala ku sendiri~

Sebenarnya, cerita mengenai pengalaman lahiran ku di Prancis sudah aku ceritakan secara cukup detail di Instagram story personal ku dan sudah ku highlighted. Tapi karena Instagram-nya ku private jadi hanya teman-teman yang followed aja yang bisa baca (ga usah ngomong kalo gitu wk~), tapi tenaaang aku akan cerita lengkapnya juga di post ini!

Sebelumnya, disclaimer dulu ya kalau apa yang akan aku ceritakan ini berdasarkan pengalaman pribadi ku saat melahirkan di Prancis yang tentu akan berbeda dengan penerapan melahirkan di Indonesia ataupun di negara lain.

Jadi, hari perkiraan lahir (HPL atau dalam bahasa Prancis, date prévue d’accouchement) ku itu seharusnya jatuh pada tanggal 18 Agustus 2021, which means it was already 41 weeks of my pregnancy. Karena, sejak awal kehamilan ku sudah menginformasikan bahwa aku ingin melahirkan secara alami (accouchement physiologique/naturelle/par voie basse/pervaginam), jadi konsekuensinya harus mengikuti peraturan yang berlaku di sini. Salah satu konsekuensi yang harus dihadapi adalah déclenchement pada akhir periode kehamilan, yaitu pada waktu 41 Minggu 6 Hari. Kuncinya, sing sabar aja.

Apa itu déclenchement?

Intinya, kalau di Bahasa Indonesia sih diinduksi untuk memancing adanya kontraksi dan pembukaan pada bagian serviks.

Kurang lebih teknisnya seperti ini di Prancis; HPL yang telah ditentukan oleh dokter obgyn usia kehamilannya genap 41 Minggu. Jika saat itu belum ada tanda-tanda kelahiran bayi, seperti kontraksi, air ketuban pecah, pendarahan; berarti hari pertama, ketiga dan kelima setelah melewati HPL, kita sudah dibuatkan janji di salle à la naissance (ruang bersalin) untuk dicek secara keseluruhan kondisi Ibu dan bayi di dalam perut. Tujuannya, untuk mengetahui kondisi anak dan Ibu dalam keadaan baik-baik saja, aman dan sehat. Jadilah, saat itu aku dan suami bolak-balik ke RS setiap 2 hari sekali.

Pemeriksaan yang dilakukan oleh sage de femme atau midwive atau bidan pada hari-hari yang ku sebutkan diatas sebenarnya sama aja, paling tidak pada hari pertama dan ketiga setelah HPL, yaitu; cek tensi darah Ibu, suhu tubuh Ibu, serta monitor keadaan detak jantung bayi, saturasi oksigen Ibu, menghitung jumlah kontraksi, USG posisi dan kondisi bayi di dalam perut, yang semuanya dilakukan dalam kurun waktu 1-2 jam. Kalau masih belum ada tanda-tanda pembukaan/kelahiran, ya kita disuruh balik ke rumah dan kembali lagi setelah 2×24 jam~

Sampai di hari ke-5 atau hari dimana proses déclenchement dimulai, aku sudah harus stay di RS, karena proses induksi akan dimulai! Begitu sampai di ruang bersalin lagi, pemeriksaan yang dilakukan masih sama seperti pemeriksaan hari-hari sebelumnya. Satu hal yang berbeda adalah dokter obgyn melakukan pengukuran secara detail berat badan bayi melalui USG! Sampai akhirnya kami diinformasikan bahwa BB anak kami diperkirakan sudah sebesar 4.2 kilogram~ 15% could be more or less.

Jujur syok banget.

Karena di sini, USG itu dijatahin hanya 3x selama masa kehamilan (yang dicover sama Assurance maladie), sehingga informasi terakhir dari dokter obgyn kami pada awal bulan Juni lalu BB anak kami masih 1,7 kilogram. Obgyn bilang BB nya masih berada di garis normal rata-rata bayi pada umumnya~

Siapa sangka 2 bulan kemudian meningkat tajam ya?

Nah, saat mengetahui BB nya sudah mencapai 4 kilogram, obgyn memberikan saran lebih baik aku disesar aja, karena kemungkinan pundak bayi nyangkut sangat besar. Jujur saat itu mixed feelings banget sih, di sisi lain aku senang karena tahu anak aku sehat, bahkan waktu itu aku sempat doa meminta kepada Allah, mudah-mudahan BB anak ku nanti paling tidak 3.6 kg juga sudah cukup, eh siapa tahu dikasih bonusnya banyak ya, hehe~ di sisi lain aku galau banget, masa sih aku harus sesar? Karena sebenarnya aku ingin sekali melahirkan secara alami, aku sempat berpikir, dulu aja mama ku bisa melahirkan aku yang BB-nya juga mencapai 4,2 kg secara alami. Bahkan, mama mertua ku juga melahirkan suami yang BB lahirnya juga 4,2 kg dan secara alami juga! Kenapa aku gak bisa? Pasti aku bisa! ucapku menyemangati diri dalam hati.

Akhirnya, aku memutuskan untuk usaha sampai titik terakhir. Soal ujungnya nanti bagaimana, aku serahkan aja kepada Yang Maha Kuasa.

Jadilah, bidan melanjutkan proses induksiku. Pertama, aku diinduksi dengan memasukan tampon yang berisikan prostaglandines. Ini dilakukan untuk melunakkan/stimulasi serviks agar membantu terjadinya dilatasi atau pembukaan. Tampon ini dipasang selama 1×24 jam, untuk melihat apakah ada perubahan pada serviks. Tepat pukul 12.00 siang, tampon dimasukan ke dalam vagina. Lalu, setelah itu aku diperbolehkan untuk menunggu di kamar inap sementara untuk makan siang, lalu dianjurkan untuk tetap banyak bergerak, jalan kaki atau duduk dengan menggunakan bola yoga.

Aku pun akhirnya ditemani dengan suami, jalan mengelilingi RS, nongkrong di kafetaria sama Papa mertua juga, dan masih semangat pake bola yoga sesampainya kembali di kamar. Sampai akhirnya, setelah makan malam, aku merasakan kontraksi yang cukup intens dan udah sakit banget per 2 menit sekali. Wah, gila deh buat aku lumayan bikin traumatik rasa sakit kontraksinya. Aku udah sampai jalan terseok-seok harus rembetan, tiduran pun masih terasa sakit, sampai akhirnya aku diberikan infus morfin malam harinya supaya aku bisa tidur dengan tenang. Begitu morfin dimasukan melalui infus, benar banget aku langsung bisa tidur nyenyak senyenyaknya~ sampai sekitar jam 3 paginya, aku lagi-lagi bisa merasakan kontraksinya hebat. Gak taunya pas dicek udah pembukaan 1,5 dan udah berdarah. Karena kami harus tetap menunggu hingga pagi harinya, jadi bidan ku menawarkan apakah aku mau diberikan infus morfin lagi atau tidak, karena aku udah gak bisa berpikir lagi lantaran sakitnya udah gak bisa ditolerir, akhirnya aku mengiyakan.

Pagi harinya, sekitar jam 7 pagi, aku dibangunin untuk kembali di monitor terlebih dahulu selama 30-60 menit sebelum sarapan. Setelah pemeriksaan, sarapan, aku pun disuruh untuk mandi. Saat itu rasanya badan lemas banget-bangetan, kayak doyong dan bawaannya mau tidur aja. Aku sampai sempat tanya ke bidan, apakah aku boleh lanjut tidur, sayangnya gak boleh karena aku akan langsung dibawa lagi ke ruang bersalin dan dilakukan beberapa monitor dan tindakan. Begitu udah masuk pembukaan ke-2 aku langsung disuntik peridural, karena aku jujur bolak-balik badan udah susah bangeeet!

Singkat cerita, setelah peridural aku diberikan waktu dari jam 10 pagi hingga jam 2 siang (udah gak boleh makan siang), aku dicek lagi katanya pembukaan ku cuma naik 1 jadi pembukaan 3 doang! Sungguh wow ya sampe akhir-akhir tuh peridural udah gak berasa, karena tetap sakit banget rasanya. Akhirnya bidan pun juga udah mecahin air ketuban ku sekitar jam 2 atau 3 siang dan bilang aku harus segera dioperasi, karena gak mungkin untuk nunggu sampai sehari lagi. Wah, campur aduk banget rasanya, tapi aku gak boleh egois memaksakan untuk lahiran pervaginam, kalau kenyataannya tidak memungkinkan. Aku yakin bayi ku saat itu juga pasti udah stress banget dengan dijalankannya berbagai tindakan selama semalaman. Dengan mantap dan hati yang ikhlas, akhirnya aku mencium tangan dan memeluk suami aku minta doanya semoga operasi berjalan lancar.

Sekitar jam 17.00, akhirnya aku langsung disuntik lokal/peridural (lagi) kali ini untuk mematikan anggota bagian bawah tubuhku untuk melaksanakan operasi sesar. Tetiba aku merasakan menggigil yang hebat banget! Buat buibu yang juga udah punya pengalaman sesar, apakah ada yang merasakan hal yang sama?

Beberapa menit setelahnya, aku langsung dibawa ke ruang operasi! Suami ikut mengantar hingga ke bagian luar ruang operasi. Disini, setidaknya di RS ku, suami tidak boleh menemani proses operasi, mungkin karena lahiran masa pandemi COVID ya. Setelah ngerasain bagian bawah badan seperti semutan dan kebas, aku mulai dipindahkan dari tempat tidur ke meja operasi dengan badan yang makin menggigil karena ruang operasi juga terasa lebih dingin! Ada 2 orang tim anestesi yang selalu menemani dan berusaha ngajak ngobrol aku saat operasi dimulai, mungkin supaya aku bisa melupakan rasa menggigil dan ketakutan kali ya. Sekitar 5 menit operasi dimulai, aku sempat dengar ada sesuatu keluar dari perut aku dan gak lama ada suara bayi yang merengek.

Hah itu bayi nya udah keluar? Cepet banget? Beneran?

Gak lama, salah satu bidan membawa bayi ku yang masih basah dan berdarah di beberapa bagian ke depan muka ku. Masya Allah! Ini bayi yang ku bawa selama 9 bulan lebih lamanya? Aku langsung nangis sesenggukkan. Aku cium-ciumin dan bayi ku malah mau makan hidung ku hahaha dikira untuk menyusui kali ya~

That was the best, the greatest, and the most beautiful moment in my entire life!

For mothers and soon-to-be-a-mother, you are more powerful than you ever think you are.

Pokoknya semua perempuan hebat! Ku doakan bagi yang sedang berusaha untuk hamil, semoga dilancarkan dan Tuhan mengabulkan segala doa ya. Bagi yang memilih untuk tidak ingin memiliki anak juga semoga kalian senantiasa sehat dan bahagia dengan pilihan kalian.

Bisous,

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: