LIVING IN FRANCE

Living in France 101 : 11 Hal yang Harus Diperhatikan Saat Kehamilan di Prancis

Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan bagi bumil atau teman-teman WNI yang saat ini sedang atau berencana untuk hamil di Prancis. Di dalam post ini, aku tidak akan berbagi mengenai informasi program kehamilan, karena sejujurnya aku tidak tahu bagaimana proses program kehamilan di sini. Jika ada teman-teman yang ingin melakukan program kehamilan, tentu aku sarankan sebaiknya untuk langsung menghubungi RS atau klinik bersalin ibu dan anak yang ada di kota kalian. Saran ku hanya untuk tidak membeli produk program kehamilan yang ada di media sosial atau dimanapun (dan jenis apapun) yang tidak sesuai dengan preskripsi dokter kalian ya.

Apa yang aku jelaskan di sini adalah beberapa informasi seperti tahap demi tahap, setelah mengetahui kalau kamu positif hamil, apa saja hal-hal yang harus dipersiapkan dan dijalankan~ Mungkin saja berbeda RS/klinik akan berbeda pula kebijakannya, tapi paling tidak mudah-mudahan teman-teman mendapatkan informasi atau gambaran umum melalui pengalaman yang telah aku alami sendiri saat ini di Prancis.

 

1. Mempersiapkan asuransi kesehatan carte vitale dan carte mutuelle

Memastikan kalau kamu sudah terdaftar & memiliki kedua asuransi kesehatan diatas selama memutuskan untuk pindah dan hidup di Prancis. Terutama carte vitale assurance maladie, karena ini merupakan kartu asuransi kesehatan utama skala nasional di Prancis dimana di dalam kartu ini juga memuat nomor security social kamu. Asuransi ini biasanya dibayarkan per bulannya secara langsung oleh patron atau perusahaan dimana tempat suami/istri/kamu bekerja di Prancis. Biasanya kalau kita berobat ke dokter, ke rumah sakit, beli obat di apotik, mereka akan menanyakan carte vitale kamu untuk data mereka dan reimbursement. Dengan carte vitale ini, menurut pengalaman ku, biasanya mereka hanya reimburse sebesar 60-70% dari biaya total. Misalnya, kamu beli obat dengan ordonnance/resep dokter di apotik dengan harga total EUR 10, nah 60-70% nya di-cover oleh carte vitale, sisanya kamu bayarkan dengan kocek pribadi kamu (jika tidak memiliki carte mutuelle).

Meanwhile, carte mutuelle adalah asuransi kesehatan pelengkap dari carte vitale yang dikelola oleh perusahaan asuransi kesehatan swasta. Ada banyak perusahaan asuransi kesehatan mutuelle di Prancis yang bisa kamu pilih, tergantung dengan kebutuhan. Nah, biasanya asuransi kesehatan mutuelle ini per-bulannya dibayarkan secara langsung (direct debit) atau secara tidak langsung (indirect debit) dari rekening kamu/pasangan kamu. Biayanya tentu beragam, tergantung perusahaan asuransi kesehatan masing-masing. Fungsinya? Untuk menanggung sisa biaya yang tidak tertanggung oleh carte vitale. Jadi, kamu tidak harus mengeluarkan kocek pribadi sendiri. Karena biasanya kalau kamu ke RS untuk konsultasi atau USG kehamilan, biayanya masih terbilang cukup mahal, meskipun kamu hanya membayar sisa dari 60% yang ditanggung oleh carte vitale, jika kamu tidak memiliki mutuelle.

Saat memutuskan untuk mendaftarkan diri di RS, mereka akan menanyakan berbagai informasi pribadi, salah satunya mengenai carte vitale dan carte mutuelle.

Fyi, carte vitale assurance maladie baru akan menanggung semua biaya konsultasi kehamilan sebesar 100% terhitung dari hari pertama bulan ke-6 dan hingga 12 hari setelah saya melahirkan. Itulah kenapa, pentingnya memiliki carte mutuelle untuk menanggung seluruh biaya yang tidak tertanggung oleh carte vitale pada bulan-bulan awal kehamilan hingga bulan ke-5.

 

2. Mendaftarkan diri di RS umum atau di Klinik Bersalin Privat?

Sebenarnya pada saat pandemi seperti saat ini, mungkin klinik khusus bersalin privat adalah pilihan yang lebih baik daripada di RS umum bagi ibu hamil. Tetapi karena di kota kami hanya ada RS umum dimana di dalamnya mencangkup bagian persalinan ibu & anak, jadi kami memilih untuk mendaftarkan diri di RS ini, karena memang jarak rumah sakit cukup dekat hanya sekitar 1 km dari tempat tinggal kami. Selain itu, setiap bulannya kami harus bolak-balik secara rutin juga untuk pemeriksaan darah dan urin di laboratorium RS ini. Jadi, semuanya sudah dalam satu pintu yang sama dan gak perlu ribet-ribet lagi.

Meskipun memang kami sadari resiko terpapar COVID lebih besar, karena RS umum di sini juga melayani pasien COVID (meskipun pasiennya ditaruh di bangunan yang berbeda), tetapi ya apa boleh buat? Makanya bagi kami penting untuk menjaga kesehatan dengan menjalankan prosedur 5M. Lebih penting lagi, stay positive aja, niatannya kan baik semoga juga sampai melahirkan nanti dan setelahnya tetap dijauhkan dari segala macam bentuk penyakit amiiin (boleh minta amin-nya?).

 

Baca juga: Living in France 101 : Our First Pregnancy Story, Pengalaman Hamil Saat COVID di Prancis #1

 

3. Mengetahui jadwal konsultasi dan USG selama kehamilan

Aku masih ingat, setelah mendaftarkan diri di RS, kami langsung mendapatkan jadwal komplit selama 9 bulan ke depan untuk konsultasi kehamilan bulanan dan échographie (USG). Di sini, setidaknya di RS tempat saya terdaftar, konsultasi kehamilan dilakukan oleh sage de femme (bidan kalau bahasa Indonesia-nya) dan kalau échographie dilakukan oleh seorang gynécologue. Jadi, bukan orang yang sama seperti yang saya ketahui kalau di Indonesia.

Di Prancis, USG wajib hanya dilakukan sebanyak 3x sepanjang usia kehamilan (once per trimester) yang ditanggung sepenuhnya oleh carte vitale assurance maladie. Kenapa cuma 3x? Di Indo kok lebih banyak? Wah, gak tau juga ya, mungkin karena di sini lebih mahal? Atau mungkin karena for the sake of the baby juga? Kalau aku pribadi sudah menempuh ke-3 kalinya échographie + 1 échographie tambahan, karena waktu itu kami kesulitan untuk mengidentifikasi jenis kelamin anak, padahal usia kehamilan nya sudah menginjak 20 Minggu. Jadi, mau gak mau harus balik lagi bulan depannya untuk melihat lebih jelas. Soalnya kebetulan sejak pertama kali échographie, bébé ku ini lumayan lincah tapi sekaligus pemalu banget. Ada momen dia lincah sampai dokter obgyn sulit untuk mengukur keseluruhan anggota badan bayi ku, ada momen dia malaaaas banget dan cuma tiduran gak mau gerak saat lagi di écho. Suka malu-malu juga nunjukin wajahnya~

Oh iya, kalau di sini mereka hanya melakukan USG 2D, mungkin kalau di RS atau klinik privat ibu dan anak ada yang menyediakan fasilitas USG 3D hingga 4D. Kalian harus banyak-banyak tanya dengan pihak RS dan klinik ya!

Nah, kalau untuk konsultasi oleh sage de femme dilakukan setiap bulannya, dimulai dari bulan ke-3 kehamilan hingga bulan ke-9.

 

4. Pengalaman USG pertama?

Aku masih ingat pertama kali kami melakukan échographie pada tanggal 26 Januari 2021 dengan usia kehamilan tepat 12 Minggu atau masuk di awal bulan ke-3 (trimester pertama). Saat itu USG dilakukan cukup lama kira-kira sekitar 45-60 menit. Soalnya lumayan banyak yang harus diukur oleh dokter obgyn. USG pertama ini tujuannya untuk menghitung jumlah fetus, otak, mendengarkan detak jantung, dan masih banyak lainnya. Waktu itu, bébé ku super lincah sampai dokternya sulit untuk mengukur dan harus sabar-sabar ngukur satu per satu. Harus beberapa kali pause monitornya saat écho. Karena ini pertama kali buat ku, jadi lumayan mewek juga lihat janin bayi ku yang alhamdulillah perkembangannya sangat baik. Masih unbelievable juga tentunya. Suami pun juga terlihat matanya berkaca-kaca saat melihat anak kami. Siapa yang gak senang bisa melihat calon buah hatinya?

Setiap sehabis melakukan USG, dokter obgyn ku juga memberikan 1 file lengkap yang berisikan informasi seputar hasil USG bayi ku. Seluruh hasil ukuran anggota tubuhnya, foto-foto USG, juga informasi seputar usia fetus dll-nya. File-file ini yang harus kita simpan dengan baik-baik karena nanti saat proses melahirkan, kita harus bawa bersamaan dengan dokumen lainnya.

 

5. Pengalaman konsultasi kehamilan pertama?

Seperti yang sudah aku ceritakan di dalam post sebelumnya, pertama kali aku melakukan konsultasi kehamilan dengan sage de femme (dimana bidan ku adalah laki-laki, tidak sesuai ya femme kan artinya perempuan hehe) aku langsung dikasih tau kalo kehamilan ku ini berpotensi memiliki diabetes gestasional (DG), meskipun baru diperkirakan ya belum positif memiliki DG.

Pertama kali konsultasi dengan bidan ku, aku senang sekali karena bidan ku sangat informatif dan sabaaaaar banget! Sejak awal aku sudah bilang dengan sage de femme dan pihak RS, kalau aku masih terbatas bahasa Prancis-nya, terutama dengan term-term kedokteran yang njelimet, jadi mereka mengizinkan aku untuk datang dengan didampingi oleh suami. Tetapi selama proses konsultasi, aku tetap diwawancara secara langsung karena untuk mengetahui jika ada keluhan selama kehamilan, paling jika ada 1-2 kata yang bidan ucapkan aku-nya gak mudeng aja, baru tanya suami. But so far so good. Bidan ku sampai harus dengan sabar berbicara perlahan-lahan selama memberikan informasi seputar kehamilan ku.

Bidan inilah yang memiliki otoritas untuk memberikan ordonnance atau resep dokter yng bisa kita gunakan untuk melakukan tes darah dan urin di laboratorium, juga membeli perlengkapan kehamilan, obat/suplemen di pharmacie/toko obat~

 

6. Melaporkan kehamilan kepada CAF dan carte vitale assurance maladie (CPAM)

Pada pertemuan USG pertama kami, dokter obgyn juga membantu kami dengan mengisi form pernyataan kehamilan yang harus kita kirimkan kepada CAF untuk melaporkan kehamilan ku ke kantor CAF dan CPAM. Fungsinya? Selain untuk mendeklarasikan kalau kita sedang hamil, juga untuk mendapatkan beberapa privilege lainnya dari Pemerintah Prancis untuk si ibu dan anak. Kalau memungkinkan, kita harus menginformasikan kehamilan sebelum akhir bulan ke-3 kehamilan untuk mendapatkan manfaat secepat mungkin dari pertanggungan kehamilan di bawah asuransi kehamilan CPAM. Cek infonya di sini.

more info: www.ameli.fr

 

7. Jadwal rutin cek darah dan cek urin, WAJIB!

Ini sih gak perlu dijelaskan ya betapa pentingnya melakukan cek darah dan urin secara berkalanya untuk apa? Sage de femme atau dokter atau obgyn kita pasti akan menjelaskan kebutuhan masing-masing untuk apa. Untuk aku yang memiliki anemia, cek darah penting dilakukan untuk make sure kebutuhan hemoglobin dan zat besi di dalam darah, apakah mencukupi bagi tubuh ku dan juga si bayi. Karena lagi hamil, kebutuhan zat besi di dalam tubuh kita jadi berkali-kali lipat, karena kita harus ‘berbagi’ dengan bayi yang ada di rahim kita. Kalau urin, karena aku punya potensi DG tadilah, selain cek darah, cek urin juga penting untuk mengetahui apakah proteinurie aku dalam jumlah/kuantitas normal atau tidak. Apa itu proteinurie? Proteinuria adalah adanya kandungan protein dalam urin. Dapat mendeteksi penyakit ginjal tertentu atau penyakit umum seperti multiple myeloma, atau bahkan preeklamsia pada bumil. Kalau jumlahnya tinggi artinya adanya abnormalitas protein (terutama albumin) dalam urin. Anomali ini menunjukkan, pada sebagian besar kasus, kerusakan ginjal, tetapi kadang-kadang juga dapat diakibatkan oleh infeksi saluran kemih atau diabetes. Itulah kenapa tes urin ini juga tidak kalah penting, at least dalam kasus ku.

 

8. Memilih program sesi persiapan kelahiran

Another perks of living here, I would say. Beruntung sekali menjadi bumil di Prancis, karena pemerintah memberikan perhatian lebih kepada kita, termasuk mempersiapkan apa pun kebutuhan bumil dan bayi saat masih dalam kandungan hingga nanti ia dilahirkan. Salah satu diantaranya, ketika mereka menyediakan program sesi persiapan kelahiran (séance préparation à la naissance) secara GRATIS! Sesi ini terdiri dari persiapan kelahiran, aquagym, yoga, metode eutonia, metode bonapace, akupuntur, dll. Cari informasi sebanyak-banyaknya mengenai sesi-sesi tersebut dengan pihak RS atau klinik bersalin tempat dimana kalian terdaftar ya!

Aku sendiri saat ini sedang mengikuti sesi persiapan kelahiran dengan sage de femme yang ada di RS. Selain itu mulai dari minggu ke-37 hingga minggu ke-39 aku juga mengikuti program akupuntur. Akupuntur di sini berfokus pada memperbaiki posisi bayi dan mempersiapkan bumil untuk melahirkan~ Mungkin nanti aku akan cerita hal ini di post terpisah ya, kalau memang dibutuhkan.

 

Baca juga: Living in France 101 : Our First Pregnancy Story, Pengalaman Hamil dengan Anemia & Diagnosis Diabetes Gestasional #2

 

9. Mendaftarkan diri dan konsultasi dengan tim dokter anestesis

Menginjak bulan ke-6, bidan ku sudah wanti-wanti untuk menghubungi tim dokter anestesis di RS. In case, ada suatu kondisi yang pada akhirnya mengharuskan aku untuk melakukan césarienne atau melahirkan secara sesar, agar tidak membahayakan kondisi bumil dan juga bayi di dalam perut. Jadi, tim anestesis ini tetap harus bersiap-siap kapan pun mereka akan dibutuhkan. Selain itu, jika aku saat melahirkan memilih untuk mengambil langkah dengan péridurale. Merupakan teknik anestesi lokal yang digunakan selama persalinan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan rasa sakit. Di sini, jenis anestesi ini sangat ‘digemari’ dan sangat efektif. Metode ini berfungsi untuk mematikan saraf sementara. Biasanya péridurale ini mulai digunakan atau dimasukan ke dalam tubuh melalui punggung belakang saat pembukaan (dilatation) sudah menempuh pembukaan ke-3.

 

10. Memilih melahirkan secara alami atau operasi sesar?

Di Prancis kebanyakan tim dokter, obgyn, sage de femme mendukung para bumil untuk membebaskan pilihan melahirkan yang diinginkan oleh masing-masing individu, either you choose accouchement physiologique (naturelle) yang kalau di Indonesia dikenal dengan kelahiran normal atau accouchement césarienne or sesar. Jadi, kalian akan jarang menemukan tim dokter yang pro-sesar atau pro-normal seperti yang ada di Indonesia. Jadi, sedari awal, bidan dan dokter obgyn kita pasti udah tanya, kita mau melahirkan secara alami atau sesar. Menjelaskan secara detail proses, efek samping dan resiko keduanya pada tubuh kita dan juga bayi. Kalau ternyata kondisi kesehatan kita saat hamil tidak ada masalah yang serius, tensi darah selalu normal dan terkontrol dengan baik, kondisi bayi juga dalam keadaan yang sehat, mereka akan tetap meng-encourage kita untuk melahirkan secara alami.

Tetapi lain cerita, jika ternyata kita memiliki beberapa gangguan penyakit saat proses kehamilan yang sejak sudah terdeteksi sejak dini atau hal-hal yang secara mendadak mengharuskan kita untuk melahirkan secara sesar karena akan membahayakan kondisi kita dan bayi, ya mereka akan memutuskan hal tersebut secepatnya, tentu dengan concern kita dan juga pasangan.

 

11. Menghubungi sage de femme individuelle untuk datang ke rumah seminggu setelah melahirkan

Lagi-lagi bisa dibilang ini perks of being pregnant here. Jadi, pemerintah melalui assurance maladie lagi-lagi memberikan kita privilege untuk mendapatkan fasilitas sesaat setelah melahirkan nanti. Sejak memasuki bulan ke-5 kehamilan, bidan ku di RS sudah mengingatkan untuk menghubungi sage de femme individuelle atau bidan yang juga bekerja secara mandiri untuk datang ke tempat tinggal kita, mengecek kondisi kesehatan kita dan bayi kita selama seminggu setelah melahirkan. Mulai dari mengecek kondisi kesehatan fisik dan psikologis kita, proses menyusui, menunjukan cara memandikan bayi, memberikan beberapa masukan atau nasihat untuk merawat bayi setelah melahirkan. Again, it’s all FREE of charge. Semua covered by carte vitale assurance maladie.

NOTE: Better untuk menghubungi sage de femme individuelle ini jauh-jauh hari, mungkin 2 bulan sebelum melahirkan untuk memastikan dengan jadwal mereka masing-masing.

 

Semoga informasi di atas cukup membantu teman-teman WNI yang juga sedang hamil di Prancis ya. Terutama lagi masa-masa pandemi COVID seperti sekarang ini. Semangat semua untuk bumil-bumil di luar sana yang juga sedang berjuang, semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan!

 

Bisous,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: