Emily in Paris vs Real-life in France #1

Sudah ada yang nonton serial komedi romantis Emily in Paris di Netflix? Bagi yang belum nonton, nonton dulu ya, bukan maksud mempromosikan serial ini, tetapi supaya bisa relate dengan apa yang mau aku tuliskan. Sebelumnya, aku mau disclaimer juga kalau di sini aku tidak akan memberikan summary/synopsis/review dari serial ini, melainkan ingin memberikan gambaran dari perspektif sebagai étrangère (foreigner/warga negara asing) yang tengah tinggal di Prancis saat ini.

Siapa sih yang enggak mau tinggal di Paris, dapet kerjaan dengan gaji Euro, bisa menikmati makanan enak dan minum wine sambil menikmati keindahan dan keromantisan ibukota Prancis kayak Emily?

Film ini benar-benar membuat penontonnya (of course, non-French or non-Parisian) sangat menikmati dan dimanjakan dengan setiap pemandangan Paris yang disajikan di dalam serial ini. Apalagi punya tetangga kece, ganteng, seorang chef kayak Gabriel?

Feels like living in a dream, isn’t it?

Tapi ternyata, lumayan banyak lho orang-orang Prancis, khususnya orang Parisian, yang menanggapi serial ini such a cliché dan sangat stereotip atau overgeneralized orang-orang Paris. Makanya gak heran, beberapa waktu lalu di Twitter perbincangan mengenai orang-orang Paris yang se mocker atau mengejek bahkan buat meme untuk menjabarkan dan membandingkan Paris di dalam serial Emily in Paris dan Paris di kehidupan nyata.

What you will not see in “Emily in Paris”

Also, all of those trashes and mouses~ rrrgh

 

Tapi ya namanya juga di film, wajar dong kalau menampilkan hal-hal atau pemandangan yang indah-indahnya aja? Wajar sih, tapi memang stereotip mengenai Paris sebagai kota romantis yang banyak dibangun di kebanyakan film Amerika memang seringkali overgeneralized. Believe it or not, hal ini yang seringkali membuat orang Parisian atau French itu sendiri menjadi ‘muak’ dengan image Paris yang dibangun di film-film. Aku pun yang baru tinggal 2 tahun disini, saat melihat serial Emily in Paris, jadi sering smirked dan ketawa sendiri di beberapa episode, karena memang dalam beberapa aspek seringkali berlebihan, terlepas dari ceritanya yang memang aku dan suami suka ya, karena cukup ringan, menghibur, menarik dan suka buat gemes! Apalagi lihat Emily yang sebegitu mudahnya gonta-ganti cowok yang ujung-ujungnya naksirnya ya sama Gabriel, tetangganya.

But anyways, karena sepertinya pembahasan ini akan cukup panjang, mungkin aku akan coba membaginya dalam beberapa posts ya. Soalnya buat aku pribadi cukup menarik sekali menonton serial ini sembari mengobservasinya dan berkaca ke kehidupan dan pengalaman kami sehari-hari~ Berikut hasil dari beberapa pengamatanku baik dari dialog para pemain, gestures, karakter, tingkah laku, etc dari serial #EmilyinParis, let’s we begin with…

 

1. “The building is very old, it doesn’t have an elevator.” – Gilles Dufour, agen apartemen (Eps. 1).

It’s a yes, kalau apartemen di Paris itu memang kebanyakan bangunan tua dan gak ada lift-nya. Sebagian besar bangunan di Paris, dibangun sejak pertengahan abad ke-19. Napoleon Bonaparte III saat itu menunjuk arsitek George Haussmann untuk memperindah bangunan-bangunan dan jalanan di Paris, karena dulunya kota ini terkenal dengan tempat yang cukup suram. Saat itu, gedung-gedung yang memiliki elevator hanya hotel dan gedung-gedung yang berada di pusat kota saja. Jadi, zaman dulu itu pembagian lantai apartemen dibagi berdasarkan kelas atau strata sosial. Di lantai paling dasar khusus untuk perdagangan, lantai pertama untuk bangsawan yang biasanya juga si pemilik toko, dst. Semakin atas lantai apartemen yang ditinggali, berarti tingkat sosialnya lebih rendah. Makanya, si agen apartemen sempet bilang chambre de bonne atau kamar khusus asisten rumah tangga (housekeeper), karena letaknya di lantai paling atas. Kalau jaman sekarang sih, chambre de bonne lebih banyak diisi sama either imigran/pelajar, karena harganya yang pasti jauh lebih murah dibanding apartemen yang ada di lantai-lantai bawahnya. Aslinya chambre de bonne juga gak sebesar yang Emily dapetin. Aslinya super kecil! Bisa dibawah 20 m2.

Meskipun saat ini ada juga sih beberapa bangunan yang di dalamnya udah direnovasi dan ditambahkan lift-nya, itupun biasanya kecil bangeeet ukurannya yang biasanya muat hanya untuk 2-3 orang. Tetapi, kebanyakan pemilik gedung memilih untuk tidak menambahkan lift, karena ditakutkan akan merusak struktur inti bangunan. Kebetulan setiap kami ke Paris, kami selalu menginap di apartemen Neneknya suami yang mana bangunan apartemennya merupakan salah satu bangunan tua juga, tapi di dalam apartemen ada lift ukuran kecil yang hanya bisa digunakan khusus untuk tenant yang membayar sewa lift juga per bulan-nya! Jadi, lift hanya bisa digunakan bagi yang memiliki kunci~

2. “Well, that’s very unfortunate… that you don’t speak French. It’s a problem…” – Sylvie, Emily’s boss in France (Eps. 1).

Memang sih terkadang banyak orang Prancis yang mengatakan “En France, vous parlez français.” yang artinya di Prancis ya kamu ngomong bahasa Prancis. Pertama kali tinggal di Prancis for good, kami tinggal di ibukota wilayah Normandy, yaitu kota Rouen. Kota yang enggak sebesar Paris, di mana yang ngomong bahasa Inggris ya tentu jauh lebih sedikit. Meskipun tinggal dengan suami, rasanya sedih banget ketika ke toko roti aja aku enggak bisa ngomong apa-apa dan penjual roti/kasirnya enggak bisa ngomong bahasa Inggris, sedangkan suami setiap hari harus kerja. Gak mungkinkan aku mengandalkan suami terus? Jadilah, aku kerja keras belajar bahasa Prancis!

So yeah, it is indeed a problem, kalau kita tinggal di suatu negara asing yang memiliki bahasanya sendiri, tetapi kita jadi lost in translation alias gak mengerti dan gak bisa ngomong bahasa tersebut. Apalagi di serial ini berhubungan dengan profesional kerja.

In daily life, somehow, mereka (Parisian or French) lebih mengapresiasi dan respect dengan orang-orang yang bisa atau mencoba berbicara bahasa Prancis, walaupun hanya sedikit. Meskipun ya, memang terkadang seberapa pun effort yang kita lakukan untuk berbicara bahasa Prancis, dengan aksen khas yang masing-masing orang miliki, ketika kita mencoba berbicara either kita salah sedikit dipelafalan/salah penggunaan artikel/konjugasi, orang Prancis akan merasa risih dan akan langsung merevisinya.

Or even worse, sesadis-sadisnya kayak Sylvie pas pertama kali mendengar Emily bilang ‘je parle un peu français’, dia langsung menyuruh Emily untuk berhenti mencoba ngomong bahasa Prancis dengan cara yang sangat sarkastik. Karena, memang sebegitunya orang Prancis sangat bangga dan sangat mengapresiasi bahasanya, jadi kalau ada yang salah tuh gemes banget jadi bawaannya mau revisi~

Terlepas dari karakter Sylvie yang dibangun oleh penulis skenario memang seorang perempuan paruh baya jadi bos yang tegas dan terkesan arrogant ya, sebenarnya gak semua orang Prancis atau orang Paris itu rude, sombong dan gak sesarkastik itu kok… Beberapa French yang aku temui atau baru aku kenal justru sangat memahami saat aku berusaha untuk mengobrol dengan mereka dalam bahasa Prancis.

3. Faire la bise.

Inget pertama kali Monsieur Brossard, pendiri perusahaan Savoir greeting Emily untuk pertama kalinya? Berjabat tangan sambil faire la bise, yaitu cium pipi kanan dan pipi kiri. Friendly gestur seperti ini biasa banget dilakukan di Prancis, terutama dilakukan sesaat setelah mengucapkan Bonjour dan Au revoir (selamat tinggal). Meskipun saat ini dalam praktiknya bisa berbeda-beda, misalnya saat pertama kali bertemu professor di Universitas, aku biasanya hanya salaman saja.

Saat aku berkenalan pertama kali dengan keluarga dan beberapa teman suami pun seperti itu, kami selalu cium pipi kanan dan cium pipi kiri. Lalu, biasanya dilanjutkan dengan memperkenalkan nama masing-masing, mengucapkan enchanté(e) atau senang berkenalan dengan kamu. Kalau udah sering ketemu, sehabis cipika-cipiki, lalu saling menanyakan kabar seperti comment ça va? atau simpelnya, ça va? yang artinya how are you? How is it going?

Well, sejak krisis COVID-19 tentu hal seperti ini udah tidak pernah dilakukan lagi, unless antara sesama keluarga inti.

4. Monsieur Brossard smoking inside the office in front of Emily. Is it normal? (Eps. 1).

Tentu enggak. Adegan banyak orang Prancis yang terlihat dengan mudahnya merokok di mana saja di dalam serial ini, juga bisa dibilang sangat berlebihan. Di Prancis, pelarangan merokok di transportasi publik sudah diberlakukan sejak tahun 1991 dan tahun 2007 regulasi yang memuat larangan lebih tegas bagi perokok yang merokok di dalam ruangan (baik di kantor pemerintahan, sekolah, perkantoran dan restoran tertutup), transportasi publik, akan dikenakan denda hingga sebesar EUR 750. Begitu pula dengan rokok elektronik (vape), yang regulasinya secara sah diberlakukan pada tahun 2017.

5. Patricia leaving just when she heard Emily start talking English at the very first meeting, is she hate Emily by talking in English? (Eps. 1).

Bukan karena dia benci orang ngomong bahasa Inggris, tetapi memang banyak orang Prancis yang refuse atau menolak saat berada di situasi ada seseorang yang berbicara ngobrol bahasa Inggris. Nobody knows clearly why. Ada yang bilang karena mereka memiliki pride yang tinggi dengan bahasanya, ada yang bilang malu atau takut salah ucap, bahkan ada yang bilang mereka sebenarnya bisa ngomong bahasa Inggris cuma males aja. Ngeselin-kan?

Tapi memang seharusnya, berbicara bahasa Inggris di kota terbesar atau ibukota seperti Paris, bukanlah hal yang sulit, karena sehari-harinya mereka juga kan pasti bertemu dengan banyak turis ataupun expatriat yang berasal dari negara-negara lain. Terlebih lagi, anak-anak muda sekarang di Paris banyak yang memiliki kemampuan bahasa Inggris lebih baik. Buat ku, lebih susah lagi ngomong bahasa Inggris di kota kecil atau kota pinggiran di Prancis, dibanding di Paris.

6. French’s breakfast = pain au chocolat (Eps. 1).

Both orang Paris dan orang Prancis, mereka senang banget grab something on the way to go to their work place, either croissant atau pain au chocolat (roti pastry isi coklat). Tentu gak setiap hari yaaa, karena harga pain au chocolat di Paris itu kisaran harganya sekitar EUR 1.40 – 1.80, meanwhile kalau di kota lain harganya sekitar EUR 0.80 cents – 1.20 saja~ padahal rasa dan kualitas sama aja, bahkan beberapa kali ketika coba makan pastry di Paris, rasanya biasa aja gak seenak dengan buatan boulangerie atau toko roti yang ada dekat apartemen ku hehe.

Croissants and Pain au Chocolat — The Little French Bakery
Source: littlefrenchbakery.com

7. “Pourquoi? We open at 10.30 am…” – Julien, Emily’s coworker (Eps. 1).

Itu sih enak banget! Padahal kenyataannya, secara umum jam kerja kantoran di Paris biasanya dimulai sekitar 08.30 atau paling lama jam 10.00 pagi. Sepupu dan om suami ku pun jam kerjanya jam 09.00 pagi yang keduanya juga bekerja di Paris. And yes, tentu semua tergantung dengan perusahaan masing-masing tentunya.

8. Nobody wants to have lunch with Emily on her first day (Eps. 1).

Hmmm, mungkin ada benarnya, ada juga yang keliru. Aku belum pernah sih ya berada di situasi bekerja secara profesional di Paris, jadi gak bisa membandingkannya dengan kehidupan real. Tetapi karena aku bergabung di beberapa group Facebook yang terkait dengan kehidupan kerja di Prancis bagi ekspatriat atau foreigner, aku sempat membaca beberapa thread yang bercerita kalau mereka (si expat/WNA tinggal di Prancis) seringkali terkucilkan di tempatnya bekerja. Ada aja yang bilang, kalau biasanya French people hanya ingin makan siang atau hang out dengan rekan sesama orang Prancis~ tetapi ada yang beranggapan lain. Jadi, ini lebih tergantung pada individu masing-masing ya.

9. Jadi, Nounou di Paris, bisa beli barang-barang branded, hang out di restoran dan party all night long? Asik banget! (Eps. 1).

Di episode pertama ini, Emily akhirnya bertemu dengan teman barunya, Mindy! Jadi, ceritanya Mindy ini adalah Chinese-Korean yang sempat sekolah di US dan memilih pindah ke Paris, karena Mindy is crazy in love with Paris~ dan di serial ini ia bekerja sebagai Nounou atau nanny atau babysitter. Pertanyaannya kemudian emangnya kerja sebagai babysitter di Paris bakalan setajir itu ya?

Ya tergantung, kalau kerjanya sama anak atau cucu dari Presiden atau keturunan bangsawan ya mungkin kecipratan. But in fact, biasanya orang-orang yang bekerja sebagai nanny di Paris, either mereka pelajar yang nyari uang tambahan, pendatang/imigran yang baru memulai pekerjaan atau juga yang memang suka sama anak-anak dan senang mengajarkan bahasa asing. Gajinya pun juga gak besar-besar amat apalagi kalau dibandingkan dengan biaya hidup orang biasa di Paris.

Source: Vogue.co.uk

Tetapi, pekerjaan seperti ini sangat dihargai di sini (juga di negara-negara Eropa lainnya), terlebih jika kita menjadi nanny sekaligus bisa mengajarkan bahasa asing kepada anak-anak. Jadi, kayak guru privat sekaligus teman bagi sang anak.

10. French really like to hang out at the cafe after office hours (Eps. 1).

Probably, this one is also true! Basically they are really like to hang out with friends or colleagues over wine/beers/coffee after office hours. Terkadang mereka juga senang menghabiskan waktu bersama teman-teman ke bar pada malam hari sekadar melepas penat setelah seharian bekerja.

 

11. Emily stepped on dog poop in front of her apartment (Eps. 2)

Be patient to read more in the next post~

Kalau kamu udah nonton serial Emily in Paris, pernah tinggal di Paris atau Perancis secara umum atau sekadar menjadi turis di Paris dan melihat hal lain yang relate banget sama pengalaman kamu, jangan lupa komentar di bawah ini ya~

 

Featured image source: huffpost.com

10 Comments

  1. Ini salah satu serial yang pengen aku nonton banget sejak muncul trailernya di Netflix. Suka dengan Lily dan lucu aja sepertinya serialnya. Dan bener seperti kata Mba, namanya juga film pasti mengangkat yang bagus2 dan seru dong untuk mengundang penonton betah nonton ya Mba, jadi kasian kalau banyak orang yang ‘nyinyirin’ karya ini.

    Suka banget sama POV yang di ambil disini, belom pernah ke Paris apalagi tinggal, tapi jadi tau banyak banget dari posting-an ini. Meskipun pernah nonton juga sih memang, kalo disana bahasa Inggris kayak gak ada harganya. Harus bisa bahasa sananya juga supaya bisa komunikasi dengan lancar.
    Ditunggu Mba yang selanjutnya, ini seru banget bacanya! hehehe

    1. Haloo makasih ya responnya, Mba Tika! Iya serialnya lucu dan bagus, maaf ya jadi spoiler deh baca post ini, sebelum Mba nonton, hehe.
      Aku harus bener-bener nonton seluruh episodenya 2x untuk akhirnya ‘klik’ dan ngeh buat akhirnya nulis di blog!
      Semoga sabar yaaa nunggunyaa~

  2. Wah, baru kemarin kelar nonton serial ini di netflix dan baca review disini dari perspektif ekspat yang tinggal di French jadi menambah wawasan. Kadang, waktu nonton film nya kita terlalu menikmati alur cerita dan kecantikan visual, jadi sampai gak memperhatikan hal detail tentang budaya dan kebiasaan disana. Seru membaca review ini, Paris pasti menjadi kota impian banyak orang.

    Salam kenal,
    Atta

    1. Halo Mba Atta, salam kenal juga. Terima kasih sudah membaca artikelnya! Paris itu emang selalu terlihat indah dan romantis sih ya di film-film, penonton jadi semakin dibuat terlena dan bermimpi ingin sekali berkunjung.
      Tunggu artikel lanjutannya yaa!

  3. ini udah masuk dalam film list aku dan bakal aku nonton nih!!

    btw, aku juga mau ke france nih kak tahun ini dan bakal tinggal disana. it’s like a dream. tapi gara2 covid jadi di undur. semoga cepet berakhir jadi bisa beneran tinggal di perancis kayak kak astrid^^

    1. Halo Icha! Congrats yaaa. Di Prancis nanti tinggal di kota apa? Enjoy watching! ☺️

  4. Aku memang belum pernah tinggal di Paris, tapi aku kerja di industri pertelevisian. Jadi aku tahu banget bahwa apa yang kita lihat di TV belum tentu sesuai realita. Namanya juga drama ya, harus dramatisir. Overall, menurut aku Emily in Paris setidaknya bisa menggambarkan gimana jadi ‘new kid on the block’ di tempat yang totally different, gak cuma bahasa tapi budaya. Soalnya aku pernah mengalaminya juga meskipun bukan di Paris.
    The bottom line o this serial, probably, dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung.
    Secara garis besar, serial Netflix ini cukup menghibur. Ya kalau gak menghibur, buat apa kita nonton serial, ya kan?

  5. […] Read also: Emily in Paris and Real-life in France #1 […]

  6. Aku enjoy banget nonton Emily, udah seneng banget ama Gossip Girl soalnya. Jadi pas ada Emily yang agak-agak mirip jadi suka banget nontonnya. Terlepas aslinya Paris gimana dan orang-orangnya, aku tipe yang suka nonton tanpa harus mikir qiqiqi. Sering baca juga klo Paris itu overrated trus orang-orangnya ngga friendly dan ngga suka berbahasa inggris. Ya segimana kontroversialnya serial ini, asik banget buat ditonton santai dan bikin mupeng ama Paris 😀

    1. Nah, itu stereotip banget sih ya sebenernya. Karena sebenarnya orang2 yang tinggal di Paris itu gak hanya orang asli Paris aja, bahkan ku denger, beberapa orang Paris asli mereka udah menyebar ke beberapa daerah di Prancis atau bahkan pindah ke LN, saking gak betahnya hidup di kota besar seperti Paris. Jadi, di Paris sendiri memang udah mixed banget orang2nya, banyak yang pindah ke Paris karena memang alasan bekerja & sekolah dan banyak jg yang memang imigran. Dan semakin berkembangnya jaman, di Paris udh lbh banyak org yg bs ngmg bahasa Inggris hehe.

      At least, sepengetahuan ku seperti ituu… Dan iya memang, lihat Paris di film-film tuh emang selalu bikin mupeng yaaa 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: