Holiday Fling Saat Travelling #2: Antara Jakarta & Stockholm

Wow, it’s been awhile. Akhirnya bisa lanjutin cerita “Holiday Fling Saat Travelling” lagi! Bagi yang belum tahu, jadi cerita ini saya tuliskan memang berdasarkan pengalaman saat melakukan perjalanan ke beberapa tempat yang berbeda. Bagi yang sering melakukan perjalanan, baik di dalam Indonesia maupun di luar Indonesia, pasti pernah mengalami yang namanya ketemu seseorang yang cukup spesial (dan mungkin membekas di hati, *cie*) saat melakukan perjalanan, terlebih ketika solo travelling. Tentu yang saya ceritakan di sini gak secara detail, karena banyak juga yang sifatnya sangat pribadi dan gak bisa saya bagi di sini. Tentu sudah seizin suami~

Cerita kali ini ((DULU)) agak membekas di hati a.k.a bikin baper dan uring-uringan! Tapi itu dulu, sekarang sih udah biasa banget, kalau diinget-inget lagi malah kayak ‘lucu juga ya? Kok bisa ya?’. Karena gimana pun kenangan di masa lalu yang kita lalui, pasti selalu ada pelajaran yang dapat di petik.

Jatuh boleh, patah lumrah, tapi yang terpenting adalah proses pembelajaran yang kita dapatkan untuk mendewasakan diri kita dan gimana kita bangun dari keterpurukan.

Sebelum saya lanjutin ceritanya, jangan lupa siapin kopi/teh dan cemilan ya, karena kali ini ceritanya akan sedikit lebih panjang dari yang sebelumnya.

Baca cerita sebelumnya: Holiday Fling Saat Travelling #1

 

Berawal dari aplikasi jadi ‘jodoh’? Masa iya?

Sejak tahun 2010 lalu, saya bergabung di salah satu social media platform khususnya bagi yang suka travelling atau sekadar ingin exchange culture and finding new friends. Intinya di platform ini kalian bisa, either as a host atau jadi surfer/traveler. Saya pribadi sudah pernah jadi keduanya. Saya pernah host beberapa travelers dari Jerman, US, Prancis dan lain-lain di rumah saat masih tinggal di Jakarta. Saya pun juga pernah jadi surfer means, kita semacam nebeng/menginap di tempat host di negara atau kota yang kita kunjungi, beberapa diantaranya saat saya pertama kali berkunjung ke Jenewa, Paris, Venice dan Stockholm. Pasti beberapa dari kalian udah bisa tebak dong platform apa yang dimaksud?

Jadi, awal tahun 2015, organisasi tempat saya dulu bekerja menerima undangan untuk menghadiri salah satu forum internasional yang bertempatkan di Stockholm, Swedia. Singkat cerita, akhirnya saya yang berangkat dan mewakilkan organisasi untuk datang ke forum internasional tersebut yang diselenggarakan pada bulan Oktober 2015. Senangnya bukan main! Akhirnyaaa saya bisa ke salah satu negara Eropa apalagi saya tertarik banget dengan tema forum tersebut, semua gratis dibayar oleh penyelenggara lagi!

Satu bulan sebelum keberangkatan ke Stockholm, saya menuliskan public post di platform tersebut yang menginformasikan kalau saya akan berada di Stockholm bulan depan dan ingin sekali bisa bertemu dengan penduduk lokal yang mungkin bisa jadi local tour guide selama berada di Stockholm. Karena memang, forum yang saya datangi itu waktunya sekitar 4 hari 3 malam + 1 arrival day (totalnya 4 malam) dan acaranya sendiri hanya dari jam 9 pagi sampai sekitar jam 5 sore, jadi memang free time-nya cukup banyak. Itulah kenapa saya berpikir siapa tahu bisa eksplor Stockholm langsung dari warga lokalnya.

Tiba-tiba ada pesan masuk di aplikasi tersebut:

“Hi, Astrid! I saw your post in XX that you will be in Stockholm next month. It’s a pleasure if we can meet and I would like to show you around Stockholm, of course, after office hours, as I will be working too. Here is my number xxxxxxxxxx. Let me know how do you think? – C”

Begitu membaca pesan tersebut, saya jujur senang banget! Kebiasaan sebelum balas pesan, saya pasti lihat dulu profilnya + rekomendasi dari beberapa orang yang sudah pernah menjadi host maupun surfer si berinisial C ini. At least, untuk mengetahui komentar-komentar mereka saat pengalaman bertemu dengan si C ini seperti apa dan berjaga-jaga tentunya.

Okey, he is Italian, 12 years older than me, tinggal di Stockholm udah sekitar 10 tahun. Sejauh ini komentarnya baik-baik sih.

Setelah mempertimbangkan selama 2-3 hari, karena lagi sibuk mempersiapkan diri untuk ke Stockholm dan juga mengerjakan beberapa pekerjaan lainnya, saya pun membalas pesan C melalui aplikasi tersebut. Intinya, berterima kasih karena dia mau meluangkan waktu untuk bertemu dan menjadi tour guide ku nanti di Stockholm dan saya gak sabar buat cepat-cepat tiba disana! Saya pun juga menyematkan nomor telepon di dalam pesan tersebut.

Gak ada balasan.

Sampai akhirnya, sekitar awal Oktober, dia langsung chat via Whatsapp.

“Hi, Astrid! How are you? Thanks for giving me your numbers. These past weeks, I am travelling a lot for my works, tired but happy. Yesterday, I just back from Italy and this might sound weird for you, but tomorrow I will be leaving to Jakarta for 3 days. It’s the first time for me to be in Jakarta. I hope to see you there (?)”

Sejujurnya agak syok. Saya sempat mikir, kok bisa ya kebetulan? Seharusnya kita bertemu di Stockholm 2 minggu lagi, tapi kenapa malah dia yang tiba-tiba ke Jakarta duluan?

“Oh, sure! It’s funny, how the universe works on us! I mean, we supposed to meet in Stockholm, but finally, you are the one who will be here soon. Let’s meet anytime you’ll be free then?”

Singkat cerita, di hari yang sama si C tiba di Jakarta, kami berdua akhirnya memutuskan untuk bertemu, karena C bilang dia mau jalan-jalan sore dan mau cari tempat untuk makan malam. Berhubung dia menginap di hotel di kawasan Jakarta Barat, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke salah satu shopping mall yang berada di kawasan tersebut. Pertama kali ketemu sih, wah, ganteng banget! Hidungnya mancung, rambutnya hitam, lumayan tinggi, gayanya necis dan gak terlihat tua banget kok~ pikir saya saat itu.

Sebelum makan malam, kami menghabiskan waktu sore hari dengan berjalan-jalan di taman tepat sebelah Mall tersebut (pasti ada yang tahu dong, Mall yang di maksud?). Kami ngobrol-ngobrol mengenai beberapa hal, terutama soal pekerjaan dan informasi mengenai Jakarta dan Indonesia. Saat itu ngobrol sama dia emang ngalir banget sih, kayak enggak ada yang menjembatani kami berdua meski usia kami berdua berjarak 12 tahun. Dia itu tipikal orang yang bold, very expressive, kalau ngomong tuh straightforward banget, humoris sekaligus sarkastik. Well, he is an Aries, no wonder huh? Kami pun menghabiskan waktu makan malam dan lanjut ngobrol-ngobrol sampai restoran tutup. Karena kami sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing, akhirnya rencana untuk bertemu lagi sebelum C kembali ke Stockholm pun harus kami batalkan.

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, saya tiba di Stockholm! Anyways, sejak pertemuan pertama dengan C, kami malah jadi lebih dekat, kami lumayan sering kontakan via Whatsapp.

Copy of igmable resto dieppe (1)

Sebelumnya, saya gak pernah punya mimpi maupun cita-cita ke salah satu negara Scandinavian. Dari sejak kecil saya bisa dibilang obsessed banget sama West European countries, khususnya all about Paris and France. Tapi begitu tiba di Stockholm, mata, hati dan wawasan saya benar-benar terbuka. Kotanya super cantik, super bersih, berwarna! Sejak saat itulah saya jadi pengin banget eksplor kota-kota lain di Scandinavian countries.

Hari dimana saya tiba di Stockholm, anehnya saya gak jetlag sama sekali, meskipun penerbangan (ditambah transit) sekitar 18 – 19 jam in total. Mungkin karena saya sesenang itu sampai di kota yang jawsdropping, breathtaking… you named it! Terlebih saya hadir di salah satu acara yang topiknya sangat menarik, it was about the gender and ICT. Saya semangat banget datang ke seluruh workshop dan the whole forum itself which lasted for 5 days in a row. Sesuai janjinya, kami pun bertemu beberapa kali setelah saya selesai forum dan setelah ia selesai kerja.

Setelah bertemu hampir setiap hari selama saya di Stockholm, kebaperan pun dimulai. All of his gestures, his laughs, his humor… made me realized that he caught my attention at that time. Dia pun akhirnya entah kenapa jadi lebih terbuka. Hingga suatu ketika kami sedang duduk-duduk di taman, tetiba dia bilang, kalau dia itu divorced dan punya 1 anak perempuan yang usianya sekitar 7 tahun saat itu. Kaget? Fifty-fifty.

“Surprise?” tanya C.

“Well, I guess. But, no wonder since you told me you are 37 years old. But why are you telling me now?” tanya saya.

Tapi memang sejujurnya, saya gak masalah banget temenan sama siapa pun, kecuali kalau saat itu dia bilang dia pengedar obat-obatan terlarang, baru saya takut dan waspada kan.

“I guess you need to know.” ucapnya lagi.

“Well, thanks for telling me then…”

“You don’t mind?”

Dengan wajah dia yang mix antara serius, bingung, kaget, campur aduk deh! Kenapa saya bisa bilang begitu? Karena, satu juga yang saya sadari dari C, dia itu orang yang sangat ekspresif, mimik wajahnya mudah banget ketebak, apalagi kalo lagi sarkasnya mode on.

“Of course not, I don’t really see it’s a big problem though. As your friend, well, new friend, it’s very good if we get to know each other.”

Saat itu memang saya benar-benar merasa itu bukan suatu hal buruk atau dosa. Dia pun mulai menunjukan beberapa fotonya dengan anaknya. Mulai terbuka juga soal cerita anaknya, masa lalunya, yang saya yakin, tidak semua orang bisa leluasa untuk menceritakan semua itu ke orang baru.

Oh, saya lupa info, saat tahu saya mendapatkan kesempatan pergi ke Stockholm, sebagai orang yang oportunis saya sempat berpikir, “kapan lagi ya gue bisa ke Eropa, mungkin emang ini waktu yang tepat (dan mungkin gak akan terulang lagi) buat gue untuk ke Paris. My dream, oh everyone’s city to visit!” Ketika arrange perjalanan dengan organizer forum tersebut, mereka memang bilang, kalau mau extend di Stockholm ataupun di negara Eropa lainnya boleh, tapi biaya, akomodasi dll ditanggung sendiri.

Intinya mereka hanya provide hotel saat forum berlangsung dan return plane ticket Jakarta – Stockholm. Jadilah, saya langsung ambil cuti seminggu! Rutenya saat itu jadi Stockholm – Paris – Geneva – Stockholm. Kenapa terselip Geneva? Karena kota ini tuh kayak salah satu kota yang jadi impian bagi hampir semua orang yang bekerja di bidang HAM ((from my point of view ya, of course)). Jadi, saya pengin banget lihat kotanya seperti apa dan berkunjung ke kantor PBB di sana~ I will tell you more about this in the next post 😉

Copy of igmable resto dieppe

Balik lagi ke C. Di Stockholm, saya berkesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat yang cantik, unik, thanks to him! Hingga di suatu momen, lebih tepatnya di malam terakhir saya dan dia bertemu sebelum saya terbang ke Paris hari berikutnya, dia memberikan pernyataan yang lumayan bikin syok + bikin kepikiran.

“To be honest, I feel good with you. Like we can talk and laugh about almost everything, feel comfortable and you’re so lovely… and bla bla bla bla…”

Untuk seseorang yang hidupnya 30% komedi, 50% sarkastik, 20% sweet, tiba-tiba ngomong hal yang sangat menjurus kayak di atas, ya cukup kaget sih. Karena both of us sama sekali bukan orang yang suka flirting satu sama lain.

“…Do you want to move to Stockholm?”

APAAAAAAA? *internally screaming*

“Wha-what do you mean?”

“You said you love Stockholm, right? Do you want to move and live with me here?”

“Well, you better tell me another joke, please.” ucapku berusaha untuk terlihat tenang dan mengalihkan pembicaraan.

“I am not joking. Is it a joke if I asked you to stay with me?”

Intinya dia mengajak saya tinggal bareng dia dan menyatakan perasaannya. Saya pun juga menjelaskan gimana perasaan saya ke dia, termasuk menjelaskan lagi hal-hal yang ingin saya lakukan ke depannya, menjelaskan impian saya, bahkan dia pun tahu agama dan budaya ketimuran saya yang sangat kuat di dalam keluarga, sehingga hal seperti ini cukup tabu buat kami. Saya pun langsung bilang sama dia kalau saya pribadi gak akan mungkin tinggal bareng sama seseorang yang bukan suami. Intinya, ya kalau memang mau serius, datang ke Indonesia, temuin keluarga dan menikah. Bukan ujug-ujug ngajak tinggal bareng.

Meskipun dia sebenarnya memberikan tenggat waktu (kerjaan kali ah) untuk saya berpikir lagi, tapi kalau dia kekeh hanya mau ngajak saya tinggal dan hidup bareng tanpa masa depan yang jelas, ya prinsip saya juga akan tetap sama. Dia memang bilang, dia tipe orang yang kalau sudah serius dan merasa nyaman sama perempuan, ya dia akan make a move, buat dia satu-satunya cara to make us works ya mengajak saya hidup bersamanya. Buatnya saat itu menikah lagi after divorce is waaay too hard in every aspect, dia gak mau jatuh di lubang yang sama. Selain itu, dia pun tipe yang yang gak bisa lama-lama LDR-an. Pertimbangan, ketakutan dan kekhawatiran saya pun, tentu banyak banget waktu itu, dari A sampai Z.

Well, since I don’t really see US in the future. Bahkan ketika saya berdoa dan meminta untuk didekatkan dengan si C, tanda-tanda dan jawabannya selalu mengarah ke arah yang berlawanan, jadi merelakan dia adalah hal yang sangat tepat yang saya lakukan saat itu. Meskipun memang kami masih sangat berteman baik hingga sekarang dan masih bertemu beberapa kali setelahnya, baik di Jakarta maupun Stockholm (iya aku dapat kesempatan lagi untuk ke Stockholm tahun 2017 di forum yang sama). Saya pun masih jadi teman curhat dia di Whatsapp, dia masih jadi one of my best supporters in life ((of course before I married)), masih jadi orang yang sering ia jadikan sasaran empuk buat disarkastikin, sampai sekarang pun kami masih saling memberikan ucapan selamat ulang tahun setiap tahunnya.

But still, saya tetap bersyukur garis hidup saya sempat bersinggungan dengan C. Saya benar-benar jadikan pertemuan dan pertemanan kami menjadi turning point saya untuk menjadi seseorang yang lebih dewasa dan tidak gegabah dalam berpikir dan bertindak.

Dia adalah seseorang yang benar-benar membuka pikiran saya dalam beberapa hal. Dari C, saya belajar untuk lebih realistis, berani ambil sikap untuk sesuatu yang memang patut dan bisa untuk diperjuangkan, juga belajar untuk merelakan sesuatu yang bukan takdir kita… and its okay for being upset over things in life, asalkan jangan berlarut-larut juga kecewanya.

Kita adalah satu-satunya orang yang mengontrol diri kita, termasuk memilih kebahagiaan sendiri. Boleh kecewa, tapi jangan jadi lupa caranya bahagia 🙂

Astrid Maharani Girault sign

2 Comments

  1. Hai Astrid. Ceritanya menarik banget! Sudah sedikit ketebak kalau bakalan ada cinta-cintaan, tapi gak sangka kalau C langsung ajak tinggal bareng gileee. Ternyata yang di film/serial asing itu beneran ya, bisa sekilat itu proses dari suka terus tinggal bareng. Ditunggu cerita yang di Geneva ya, saya jadi penasaran juga hihihi

    1. Hai Mbak, makasih udah baca ceritanya. Iya nih, aku berasa sebagian hidupku kayak drama-drama yang ada di film. Karena sering solo traveling jadi cerita-cerita seperti ini selalu adaaa aja yang unik-unik, tapi ya disyukuri aja ya namanya juga masa muda, kalau gak mengalami banyak ketemu orang dengan berbagai karakteristiknya, jadi gak belajar dari pengalaman ya hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: