DESTINATIONS,  Thailand

Holiday Fling Saat Travelling #1

Setiap kali melakukan solo travelling ke beberapa tempat yang berbeda, salah satu hal yang saya sukai adalah ketika saya berkesempatan bertemu dengan penduduk lokal maupun wisatawan asing yang juga sedang melakukan perjalanan di kota/negara yang saya datangi. Tidak jarang dari pertemuan tersebut, kami jadi memutuskan untuk liburan bersama, sekadar nongkrong bareng, bahkan turns out ada yang jadi gebet-gebetan/pacaran, teman dekat atau berakhir di pelaminan.

Yes, I married someone I met when I travel.

Ngomong-ngomong soal travelling, apakah diantara kalian juga ada yang bertemu dengan seseorang ‘spesial’ seperti yang saya sebutkan di atas? Baik pertemuan yang secara tidak sengaja maupun disengaja ya (misal, melalui aplikasi media sosial atau dating apps).

That’s what people usually called, ‘holiday fling’.

Nah, bagi yang sudah pernah nonton film Trinity the Naked Traveler pasti ingat tokoh Paul yang diperankan oleh Hamish Daud? Di film tersebut salah satunya holiday fling yang dialami oleh Trinity, the writer herself, yang diperankan oleh Maudy Ayunda. Mereka bertemu di tempat dan waktu yang tak terduga, sampai akhirnya mereka ‘liburan’ bersama dan kemudian ada perasaan diantara keduanya yang bersemi saat itu.

Sebelum bercerita lebih lanjut mengenai topik di atas, saya jelaskan sedikit pengertian holiday fling ya. Kalau menurut Urban Dictionary,

holiday fling; sepasang laki-laki dan perempuan yang bertemu saat keduanya sedang berlibur. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama-sama saat liburan dan menikmati kebersamaan diantara keduanya. Kemudian, mungkin salah satu atau keduanya merasa tertarik satu sama lain, lalu menjalin hubungan spesial selama liburan.

Hubungan spesial di sini tidak melulu mengenai hubungan seksual ya, ada yang memang keduanya tertarik karena merasa ada kecocokan dan ketertarikan secara pemikiran dan nyambung ketika mengobrol.

And then, beberapa diantaranya ada yang melanjutkan hubungan tersebut saat mereka kembali ke negara atau tempat masing-masing (berakhir jadi long distance relationship), ada juga yang kandas saat liburan keduanya selesai atau mungkin juga ada yang berlanjut ke arah lebih serius.

Sejujurnya beberapa kali saya sempat mengalaminya, mulai dari, secara tidak sengaja ketemu karena sekamar di hostel saat berlibur di Bangkok, Thailand; ketemuan karena janjian melalui aplikasi Couchsurfing di Jakarta dan di Stockholm; gak sengaja ketemu di salah satu restoran di Annecy, Prancis; hingga tidak sengaja ketemu, karena sama-sama ‘terlantar’ di Subway restoran akibat adanya ancaman bom di stasiun di kota Toulouse, Prancis.

Disclaimer: it’s all based on my true story. Kalau ada yang punya kesamaan cerita/pengalaman, boleh cerita juga ya di kolom komentar di bawah ini. Siapa tau kita bisa berbagi cerita atau pengalaman, sekadar hiburan aja kok, gak usah diambil serius.

 

Ketemu Teman Baik dari Belanda di Bangkok, Thailand

Sewaktu pertama kali ke Bangkok sekitar tahun 2014, saya yang selalu go on a backpacker budget, menetap di hostel tentu menjadi pilihan utama. Apalagi kalau harganya diskon! Saat itu, harga per bunk-bed/per night/per person kalau di Rupiahin cuma sekitar Rp 70.000,- (tidak termasuk sarapan) padahal hostelnya bagus, industrial gitu interior-nya, super bersih dan suasananya memang untuk young backpacker gitu dan kamar yang saya tempati was a mixed dorm. Kalau kalian penasaran hostelnya, namanya Loftel 22 Hostel di Charoen Krung road.

bkk3
Di depan hostel yang kami tempati setiap weekend selalu ada pasar makanan, baju dll

Setiap memilih hostel saya tidak pernah ada masalah mau campur atau khusus perempuan, bagi saya yang terpenting, murah, nyaman, bersih, ada sekat/gorden/penutup di tempat tidur dan sebisa mungkin yang sekamar gak terlalu banyak orang (maks 4-5 orang). Maksudnya, biar gak riweh, ngerti-kan? Nah, saat itu di dalam kamar saya ada 2 bunk-bed (tempat tidur tingkat) untuk 4 orang, tetapi selama 3 malam cuma ada saya dan seorang lelaki berkewarganegaraan Belanda yang memang ‘tinggal’ di hostel tersebut sudah sekitar 2 bulan.

Pertama kali sampai kamar awkward sih, let’s we called his initial name ‘B’. Jadi, si B ini lagi telefonan sama temannya, berhubung saya capek banget saat baru sampai, jadilah berencana untuk selonjoran sebentar, mandi lalu baru pergi jalan-jalan. Pas lagi selonjoran sambil main hape, B tiba-tiba selesai nelefon dan nyapa saya.

“Hi, anybody new in this room?”

Oh, yes, I am.” saya yang tadinya selonjoran, pun tiba-tiba terduduk di tempat tidur.

“Sorry I was talking with a friend. I am B…” dia langsung memperkenalkan dirinya.

“Hi, Astrid. No worries, you can continue talking to your friend, I just want to take some rest on my bed.”

Dan kita berakhir dengan basa-basi standard gitu aja sih. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, dia nanya rencana mau ke mana nanti sehabis mandi? Saya bilang ya, mau jalan-jalan sekitar Chinatown aja (fyi saat itu memang hostel kami di daerah chinatown). Berhubung udah agak sore juga, jadi gak banyak yang bisa dilakukan, makanya milih jalan-jalan. Dia pun menawarkan untuk menemani saya akhirnya, karena kebetulan dia gak ada kerjaan juga.

bkk2
kita juga nemuin gereja kecil yang cantik ini!

Jadilah kita berdua jalan-jalan bareng dari jam 4 sore sampai jam 9 malam. Literally jalan kaki berkilo-kilo meter. Pulang-pulang kayak mati rasa kaki dan pinggang! But it was fun with him. Selama menginap 3 malam di sana, dia nemenin saya di hari pertama saja, karena setelahnya saya seharian di Chatuchak market (dan dia males banget, kalau urusan shopping), tetapi kami sepakat janjian untuk sarapan dan makan malam bersama-sama selama saya menginap di sana. Lalu kita makan wartegnya ala-ala Thailand, pad thai pinggir jalan, terus dia juga ajakin cafe-hopping.

bangkok
Also we found this scary building on our way!

Turns out we’re getting close as a good friend, bahkan setelah saya pulang ke Jakarta. Dia itu keren banget, jadi sebelum ke Bangkok, dia itu baru aja bangkrut dari usaha real estate-nya di Turki, satu-satunya modal atau uang tersisa ia pergunakan untuk tinggal di Bangkok. Pas ditanya terus mau kerja apa di Bangkok, dia bilang dia mau jadi guru bahasa Inggris, and he got it just a few weeks after we met. Setelah jadi guru di sana, dia pun ternyata diterima kerja masih sebagai guru bahasa Inggris, tetapi di China. Saat itu, kami pun masih sering chat by Whatsapp even often video call through Skype! Soalnya waktu itu Whatsapp belum bisa video call, haha.

Kita tuh cerita hampir tentang apapun, tapi memang kebanyakan mengenai pekerjaan. Selain itu, dia juga suka cerita soal pacarnya dan murid-muridnya di China. Waktu tahu dia diterima kerja di sana, saya sudah hampir mau beli tiket liburan ke sana untuk reunian sama dia, tapi ternyata kenyataan berkata lain. Saya malah diterima fellowship di Jenewa, Swiss. Tentu saya sangat bersyukur sekali! Dia pun juga senang dan sangat mendukung saya.

Sebenarnya, pertemuan kami berdua itu buat saya bukan sekadar kebetulan, tetapi lebih kepada rezeki. As a first timer yang liburan di Bangkok saat itu, saya merasa beruntung banget, ketemu B. Karena dia benar-benar orang yang genuinely baik, selalu positive thinking, helpful, berwawasan luas, sangat melindungi, friendly dan lumayan bawel, jadi liburannya gak membosankan sama sekali dan jujur saya merasa aman saat itu, karena dia memang orang yang berpendidikan dan sangat sopan. Itulah kenapa, dari pada menyebutnya sebagai holiday fling, saya lebih senang menyebutnya sebagai one of my miracle travel friend!!! Kan kata orang, rezeki itu datangnya dalam bentuk hal apapun dan saya yakin setiap perjalanan saya selama ini, yang selalu berkesempatan bertemu dengan orang-orang baik, itu semua adalah bagian dari rezeki.

Pertemanan kami pun bertahan sampai saat ini. Dia pun jadi teman pertama di solo traveling experience saya & teman pertama yang berkebangsaan Belanda.

Kalau kalian, apakah ada yang mengalami hal serupa saat travelling? Saya tunggu ceritanya juga ya!

 

Astrid Maharani Girault sign

Tunggu cerita selanjutnya ya…

Holiday Fling Saat Travelling #2 : “Antara Jakarta dan Stockholm

2 Comments

    • Astrid

      Hai, selamat datang di dunia blog! Makasih udah baca jugaaa. Hehe
      Wah masih agak panjang ceritanya kalau sampai ke suami yg sekarang ini.
      Tunggu cerita selanjutnya ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: