AMERICA,  ASIA,  EUROPE

Seperti Apa Travelling Pasca Pandemi?

Kemarin baru aja baca salah satu artikel New York Times tentang ‘The Future of Travel’ yang membahas tentang masa depan perjalanan setelah pandemi ini berakhir. Sesuai dengan apa yang ada di pikiran ku, kalau memang semua hal, tidak terkecuali travelling, akan berubah secara signifikan, terutama dipengaruhi oleh faktor psikologis kita as a human being.

Dalam hal berpikir, bertindak, dan berpergian, tentu semua akan perlahan-lahan berubah. Kita akan lebih menaruh perhatian pada dua aspek utama; kesehatan dan kebersihan. Cara pandang dan berpikir kita bahkan sudah berubah total saat pandemi mulai mewabah ke seluruh dunia.

Lebih paranoid.

Menyentuh plastik belanjaan, langsung buru-buru cuci tangan. Kalau bisa semprotin semua belanjaan dari supermarket dengan desinfektan. Pergi keluar rumah sebentar untuk mampir ke minimarket, pulang-pulang merasa sangat kotor, lalu mandi. Mungkin kebanyakan dari kita sehari bisa mandi lebih dari 2-3 kali sehari saat ini.

Nah, hal-hal kecil itu memberikan dampak yang cukup signifikan di kehidupan kita nanti, meskipun pandemi ini sudah berakhir. Sama halnya dengan melakukan perjalanan (travelling). Seberapa besar pun keinginan kita untuk melakukan perjalanan ketika pandemi ini berakhir, psikologis kita mengenai kewaspadaan akan orang lain, kebersihan sekitar, keadaan lokasi liburan, pun mulai terbentuk dan meningkat.

More than 3 millions free vectors, PSD, photos and free icons. Exclusive freebies and all graphic resources that you need for your projects

Rasa paranoid inilah yang diharapkan dapat membawa dampak positif terhadap diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar. Membuat kita jadi lebih mawas diri untuk menjaga kebersihan dan kesehatan diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar. Asalkan jangan jadi paranoid berlebih ya.

Dari artikel “The Future of Travel” yang aku baca diatas, mereka mencoba untuk memaparkan keadaan dunia perjalanan (travelling) setelah pandemi ini berakhir berdasarkan riset yang dilakukan di Amerika Serikat, diantaranya;

  1. Industri perjalanan (travelling) baik melalui jalur laut, udara dan darat akan menawarkan lebih banyak fleksibitas, lebih banyak diskon tiket dan paket liburan, juga menawarkan berbagai tarif yang lebih menarik. Demi mengembalikan keadaan finansial mereka yang lumpuh, saat pandemi berlangsung.
  2. Maskapai penerbangan akan menambahkan beberapa prosedur dalam meningkatkan pelayanan kebersihan dan kesehatan di dalam pesawat, seperti; melakukan desinfeksi secara rutin, mendaftarkan pemeriksaan kesehatan seluruh penumpang, menyediakan peralatan perlindungan pribadi (masker, hand sanitizer, dll), memberikan rasio ruang antar-penumpang agar jarak tidak terlalu dekat dengan lainnya, hingga rencana darurat untuk mengatasi virus, jika wabah pandemi terjadi kembali.
  3. Pemeriksaan kesehatan wajib bagi semua passenger di Bandara Kedatangan dan Keberangkatan. Kemungkinan di beberapa Negara besar, mereka mulai menerapkan kamera termal (seperti CCTV tetapi untuk melihat suhu badan manusia) di bagian kedatangan, jadi ketika suhu badan lebih dari 110,3 derajat Fahrenheit atau diatas 37.90 derajat Celsius, kamera ini dapat mendeteksinya dengan akurat, sehingga penumpang yang demam akan dibawa ke ruangan khusus untuk kemudian dievaluasi. Selain itu, di bandara-bandara, mereka harus memastikan seluruh penumpang saat berada di security-check atau bagian imigrasi, agar tetap menjaga jarak antara satu sama lain (physical distancing).
  4. Selain bandara dan pesawat, biro perjalanan kapal pesiar pun juga akan mengalami perubahan. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention) telah menghentikan seluruh perjalanan kapal pesiar saat pandemi mulai merebak. Namun, kemungkinan besar akan mulai membuka perjalanan untuk publik mulai tanggal 1 Agustus, tentu tergantung dari masing-masing perusahaan kapal pesiar. Sama seperti biro perjalanan dan maskapai penerbangan lainnya, mereka akan memberikan potongan harga besar-besaran dan memberlakukan kebijakan pembatalan yang lebih fleksibel untuk meyakinkan pelanggannya. Tentunya, biro perjalanan kapal pesiar juga akan mulai memberlakukan protokol yang sama dengan peraturan yang ada di sektor penerbangan.
  5. Kekhawatiran untuk berpergian jarak jauh. Sebagian orang mungkin lebih memilih untuk berlibur di dalam negeri atau sebisa mungkin hanya menggunakan transportasi jalur darat, seperti mobil pribadi. Berbeda dengan perjalanan internasional yang mungkin akan membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat bangkit kembali. Saat semua negara telah resmi membuka kembali negaranya, mendapatkan izin untuk mengunjungi suatu negara kemungkinan besar akan lebih sulit, menambah lebih banyak dokumen-dokumen pribadi dan pemeriksaan kesehatan yang lebih ketat, terutama pada awal-awal pemulihan.
  6. Durasi liburan sekeluarga pasca pandemi juga cenderung lebih pendek. Aspek kesehatan dan keselamatan akan menjadi prioritas utama orangtua saat ingin melakukan perjalanan sekeluarga.
  7. Begitu juga dengan kebijakan hotel dan Airbnb. Mereka akan memberikan kebijakan pembatalan yang fleksibel, menambahkan dan memperketat kebijakan atau protokol baru untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan kamar dan hotel di sekitar. Kedua aspek inilah yang akan dan selalu menjadi concern dan penilaian utama para traveler saat mereka mulai ‘percaya’ dan memilih untuk menginap di hotel maupun Airbnb saat berlibur. Sehingga tidak heran, jika akan ada ‘sertifikat kebersihan’ yang dikeluarkan oleh Leadership in Energy and Environmental Design (LEED), akan sangat dibutuhkan oleh sebuah hotel. Bahkan hotel-hotel seperti Marriot, berencana untuk menawarkan layanan kamar (check-in, room service, etc) dilakukan melalui aplikasi di ponsel, sehingga membatasi interaksi antara tamu dan staff hotel, yang juga merupakan program baru kebersihan secara global. Begitu juga dengan Hilton yang akan memberikan segel pada pintu kamar hotel sebagai penanda bahwa pintu tersebut dalam keadaan bersih dan steril, belum ada seorang pun yang masuk sejak terakhir kali mereka membersihkan kamar tersebut.
  8. Menurut survei Destination Analysts, sebuah perusahaan riset pariwisata, lebih dari separuh traveler Amerika berencana untuk menghindari tujuan liburan yang ramai ketika mereka ingin melanjutkan perjalanan.
  9. Asurasi perjalanan pun juga harus turut serta mengembalikan kepercayaan pelanggannya. Traveler pasti berpikir bahwa mereka merasa dirugikan selama pandemi ini, karena mereka tidak dapat memanfaatkannya. Sehingga, jika asuransi perjalanan ingin mengembalikan kepercayaan konsumen, mereka juga harus menerapkan kebijakan baru terkait perubahan maskapai penerbangan dan hotel, agar lebih mudah untuk dibatalkan tanpa harus mengenakan biaya charge apapun kepada pelanggannya.
Beautiful illustration of travel

Ternyata engga nyangka kan kalau suatu pandemi dapat merubah kebijakan hampir di seluruh industri, tidak terkecuali industri perjalanan dan penerbangan. Perusahaan harus menerapkan kebijakan sedetail itu, demi mengembalikan kepercayaan publik pasca pandemi, juga memberikan rasa keamanan dan kenyamanan publik saat menggunakan jasa atau fasilitas mereka.

Meskipun adanya dukungan teknologi yang sangat inovatif seperti saat ini, misalnya dengan memanfaatkan penggunaan aplikasi online, perusahaan-perusahaan diharapkan tetap dapat melindungi data pribadi pelanggannya. Jangan hanya memikirkan upaya ini dilakukan untuk menerapkan physical distancing antara pelanggan dan pemberi jasa, tetapi malah melupakan prinsip dasar yaitu melindungi privasi pelanggannya.

Organisasi Perjalanan Dunia PBB (UNWTO) juga telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi untuk Mendukung Pekerjaan dan Perekonomian melalui Industri Perjalanan dan Pariwisata sebagai seruan aksi untuk mengurangi dampak COVID-19 terhadap bidang sosial dan ekonomi, serta untuk mempercepat pemulihannya. Dengan memberlakukan hashtag #TRAVELTOMORROW, mereka berharap dapat meningkatkan solidaritas dengan semua sektor pariwisata dalam menanggapi situasi darurat kesehatan sesaat maupun setelah pandemi ini berakhir.

Termasuk juga bagaimana melindungi kelompok paling rentan dalam industri ini, seperti perempuan, anak muda dan komunitas di pedesaan, yang menyandarkan kehidupannya dengan bekerja di sektor pariwisata. Sehingga, dibutuhkan serangkaian dukungan dan mitigasi khusus untuk mempertahankan pekerjaan dan memastikan kapasitas di industri pariwisata pasca pandemi ini sangat lah penting.

Sebagian besar pemaparan diatas memang berdasarkan hasil riset, interview maupun studi kasus yang berada di Amerika Serikat. Mungkin saja beberapa negara dan industri lain akan menerapkan hal yang berbeda. Namun, setidaknya penting bagi kita untuk melek informasi, paling tidak untuk waspada terhadap adanya kondisi pandemi yang mungkin saja akan terjadi kembali di kemudian hari.

Jangan hanya karena udah kebelet banget travelling, terus kita jadi acuh dengan diri sendiri, keluarga maupun lingkungan sekitar ya.

Be a smart traveler and travel wisely ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: