Living in France 101 : 3 Tahun Puasa di Negeri Orang

Gimana puasa di Perancis?

Kangen gak sama keluarga di Indonesia?

Nanti lebaran pulang kampung engga?

Beberapa tahun belakangan setiap menjelang bulan Ramadhan, pasti pertanyaan-pertanyaan itu yang dilontarkan dari keluarga dan teman-teman terdekat. Terlebih ini sudah tahun kedua aku menjalankan puasa Ramadhan di Perancis, jauh dari orangtua, keluarga dan teman-teman.

Loh, tapi kok di judul-nya tiga tahun?

Singkat cerita, tahun 2016 lalu, aku mendapatkan kesempatan fellowship untuk bekerja di salah satu internasional NGOs selama 3 bulan di Jenewa, Swiss. Saat itu untuk pertama kalinya aku tinggal jauh dari orangtua dan keluarga. Hidup di negara yang engga pernah aku bayangkan dan mimpikan sebelumnya, kalau aku bisa tinggal dan bekerja disana.

Plus, merayakan dan menjalankan ibadah berpuasa di bulan Ramadhan untuk pertama kalinya di Swiss. Jadilah, ini menjadi pengalaman pertama aku puasa di luar negeri. Jujur, saat itu ngerasanya puasa terasa lebih sulit, karena aku berpuasa kurang lebih mulai dari jam 4 pagi hingga jam 10 malam. Hampir 18 jam berpuasa.

Terasa berat karena aku tuh engga bisa dan engga biasa masak apa-apa sendiri, karena selama di rumah aku selalu dibantu Mbak yang masakannya luar biasa enak. Terlebih, saat itu aku berpuasa dan tetap harus bekerja 9 to 5, bolak-balik dari kantor tempat aku bekerja ke kantor PBB untuk menghadiri sidang Dewan HAM PBB kurang lebih selama 1 bulan lamanya. Aku harus bolak-balik dari meeting satu ke meeting lainnya, ditambah kemana-mana aku selalu jalan kaki, terlebih saat itu aku stayed disana saat musim panas, yaitu bulan Juni hingga September. Jadi, ya lumayan panas dan kering ya udaranya.

Meanwhile, semenjak aku menikah tahun 2018 lalu dan resmi pindah ke Perancis bulan Desember 2018 hingga kini, aku sudah dua kali merayakan dan menjalankan bulan suci Ramadhan di Perancis. Tentu berbeda saat berpuasa di Swiss saat itu, kali ini alhamdulillah bersama pasangan. Berhubung pasanganku baru mualaf, jadi aku pribadi harus rajin-rajin untuk memperkenalkan dan mengingatkan suami mengenai Islam itu sendiri. Walaupun aku juga belum sempurna-sempurna banget pengetahuannya, but sharing is caring-kan?

Tahun ini, bulan Ramadhan-nya tentu terasa berbeda bagi seluruh umat muslim di seluruh dunia. Mungkin engga hanya aku aja yang kepikiran, kenapa semua ini terjadi di bulan Ramadhan? Bulan dimana, biasanya kita menghabiskan waktu bersama keluarga, teman-teman terdekat untuk mengatur jadwal buka puasa bersama di luar, lalu melaksanakan shalat tarawih di masjid dsb. Mungkin memang kita disuruh untuk ‘beristirahat’ sejenak, kita diingatkan kembali untuk banyak menghabiskan waktu bersama orangtua, anak dan keluarga, kita diingatkan kembali untuk fokus beribadah terutama bulan Ramadhan seperti saat ini.

Seakan-akan jadi pengingat juga engga sih, kalau kita harus ramah lingkungan, kalau kita tuh jangan hanya respect sama sesama manusia saja, tetapi sama lingkungan juga, sama bumi tempat tinggal kita saat ini. Seakan-akan juga kita diajarkan untuk engga boleh egois dan situasi apapun yang terjadi saat ini atau di masa yang akan datang, kita tetap harus mengutamakan sisi kemanusiaan kita. Kalau menurut kalian gimana?

Well anyways, tadi itu intermezzo aja, sih.

Jadi, puasa di Perancis memang terbilang sedikit agak effort ya. Aku engga bilang sulit, karena memang tergantung anggapan dan pengalaman masing-masing orang. Sedikit effort-nya disini maksudnya adalah tentu waktu puasa yang lebih panjang dan jadwal berbuka puasa yang agak larut malam. Kalau di Jakarta, buka puasa sekitar jam 6 sore, di Perancis buka puasanya saat ini sekitar jam 9 malam. Jadi, total jam puasa disini sekitar 16 jam lamanya. Lumayan-kan?

Jam-jam rawan aku itu sama kayak saat di Jakarta, sekitar jam 3 sore keatas. Tapi kan di Jakarta, kalau udah memasuki jam-jam rawan dari jam 3 sore nunggu sampe jam 6 sore, pendek ya waktunya. Ibaratnya, nonton 1-2 kali film udah buka puasa. Tapi disini, kalau laparnya jam 3 sore, aku masih harus nunggu 6 jam lagi untuk buka puasa. Sedangkan aku pun lagi membatasi diri untuk nonton-nonton drama serial atau film, soalnya kalau udah ketagihan nonton, aku ngerasa jadi engga produktif, yang ada kerjaan ku dan kerjaan domestik di apartemen jadi terlantar. Who’s with me?

Tentu ini juga engga mudah untuk newbie kayak suami aku, tapi alhamdulillah sudah dua hari ini dia kuat. Kalau tahun lalu dia masih bolong-bolong karena harus kerja, ngajar di universitas, field trip dan aktifitas lainnya, mudah-mudahan tahun ini karena di rumah aja, dia jadi mulai bisa belajar untuk membiasakan diri dan beradaptasi di tahun-tahun berikutnya. Minta amin-nya yaaa…

Nah, karena waktu buka puasanya jam 9 malam dan sahurnya sekitar jam 03.30 dini hari, jadi aku pribadi suka agak malas bangun, karena masih lumayan kenyang dari malam sebelumnya. Tetapi karena suami butuh asupan lebih banyak, ya mau engga mau tetap harus masak lagi atau paling engga ya menghangatkan makan malam sebelumnya, untuk sahur.

Untuk puasa kali ini, aku pun engga ada persiapan yang terlalu gimana banget sih. Cuma mempersiapkan kesehatan jasmani, rohani dan kesehatan mental tentunya, terlebih dalam situasi pandemi seperti saat ini. Kenapa mempersiapkan kesehatan mental juga penting? Karena di situasi pandemi begini, penting untuk menjaga kesehatan mental kita, terutama saat jauh dari keluarga dan teman-teman terdekat. Jadi, sebisa mungkin saat kita berpuasa, kita tetap melakukan aktifitas-aktifitas yang membuat kita senang, aktifitas yang membuat kita merasa nyaman meski hanya di rumah aja. Kalau aku pribadi, aku lagi senang banget merawat tanaman, ini jadi salah satu coping mechanism aku saat di apartemen. Selain itu, karena aku memang hobi menulis, jadi ya aku selalu menyalurkannya either ke dalam buku jurnal atau juga ke blog ini.  

Oh ya, dan aku juga iseng-iseng mempersiapkan weekly meal plan menu selama bulan Ramadhan ini, seperti ini misalnya.

Menu diatas terinspirasi dari beberapa website recipes favorit aku sih, jadi tinggal aku kombinasikan sendiri sesuai dengan keinginan dan kemampuan. Kenapa cuma 2 menu? Soalnya jarak antara buka puasa, makan malam dan sahur disini singkat banget. Seringkali aku langsung stock banyak sekalian jadi menu buka puasa dan sahur keesokan harinya sama, untuk mengirit waktu juga. Oh ya, menu diatas vegetarian based ya.

Oke, balik lagi.

Sebenarnya kalau ditanya apa yang paling ngangenin saat bulan Ramadhan, ya tentunya kumpul sama keluarga dan teman-teman terdekat. Apalagi aku kangen banget sama makanan takjil, gorengan dan jajanan pasar lainnya, yang selalu menemani saat berbuka puasa. Suer aku kangen banget sama siomay abang-abang, sate padang, bakso dorong, martabak keju dan coklat, dsb. Itu dia yang sulit didapatkan disini. Kalau lagi mau banget, ya harus buat sendiri tentunya, walaupun terkadang rasanya tentu beda banget sama rasa dari makanan yang dijual di abang-abang.

Huhuhu, I miss you abang-abang gerobakan.

Kalau kalian gimana puasanya? Ada yang mengalami hal yang sama kayak aku engga?

Semoga kita semua dilancarkan ya ibadah puasanya.

Related Post: Vlog Sebelum Puasa di Perancis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: