Chile

6 Hal Tidak Biasa di Chile

Setiap berkunjung ke kota atau negara baru, aku tuh senang banget bisa melihat dan ‘merasakan’ hal-hal berbeda yang engga ada di Indonesia maupun Perancis.

Kayak waktu aku ke Chile akhir tahun lalu, setiap lagi jalan-jalan dan ketemu penduduk lokal setempat, aku selalu memerhatikan hal-hal kecil yang beda banget dengan kebiasaan aku atau mungkin juga kebiasaan orang-orang Indonesia pada umumnya. Somehow ada yang menarik dan cukup menantang sih, apalagi aku harus beradaptasi keras dengan hal-hal ini selama berlibur hampir sebulan disana.

Apa aja ya kira-kira?

Jadwal makan yang telat banget

Berbeda dengan Indonesia yang biasanya sarapan mulai jam 6 hingga jam 8 pagi, makan siang mulai jam 12 hingga jam 2 siang, dan makan malam mulai jam 6 hingga jam 8 malam, di Chile semua terasa lebih terlambat dari biasanya. Mereka bisa mulai sarapan jam 8 – 10 pagi, makan siang jam 2 – 3 siang, dan makan malam mulai jam 9 – 11 malam.

Bahkan, saya pernah diundang makan malam oleh kolega-kolega suami saya di Chile, kita baru mulai makan appetizer mulai jam 10 malam, dengan ngobrol-ngobrol, kita baru selesai dengan dessert dan minum teh sebagai penutup sekitar 00.30 tengah malam, yang akhirnya kita balik ke penginapan hampir jam 1 dini hari. Kebayangkan laper banget dan begah bangetnya karena abis makan kita langsung tidur?

Cium pipi sekali saja~

Di Indonesia, setiap bertemu dengan orang baru, kita biasanya hanya sebatas berjabat tangan. Kalau di Perancis, kadang-kadang baik baru kenal ataupun sudah berteman lama, mereka akan cium kedua pipi, kanan dan kiri. While in Switzerland, tradisinya juga berbeda. Mereka akan cium pipi sebanyak 3x, lebih sering terjadi bagi mereka yang sudah berteman baik. Berbeda di Indonesia, Perancis dan Swiss, berbeda juga di Chile.

Di Chile, kalau kita baru berkenalan dengan orang baru atau setiap kali bertemu dengan teman, biasanya salah satu cara mereka menyapa kita (khususnya laki-laki ke perempuan), dengan mencium salah satu pipi kita (no matter which side of cheek), tapi kalau sesama laki-laki biasanya sih, cuma salaman aja.

Makan alpukat di setiap waktu

Saat aku masih kecil, setiap mau minum jus di sekolah, aku selalu pesan jus alpukat pakai susu kental manis cokelat. Wah, nikmat banget kan?! Sampai akhirnya dilarang sama orangtua, karena katanya alpukat itu bikin gemuk! Ya iyalah bikin gemuk, orang minumnya pake susu kental manis lagi.

Hingga akhirnya ada salah satu teman ku orang Belanda yang makan alpukat pakai bumbu Racik Indofood! Itu loh bumbu penyedap untuk masak kangkung atau sayur apa gitu (iyeuuuh…). Dan saat itu dia kekeuh banget kalau di Belanda memang tradisi makan alpukatnya selalu dengan salted or savory food. Ada benarnya juga, karena di Perancis juga sama, bahkan ketika aku ceritain kalau di Indonesia kita buat jus alpukat pakai susu kental manis cokelat aja mereka juga bingung.

Nah, di Chile, alpukat itu dimakan hampir di setiap makanan. Biasanya sering dibuat guacamole atau dipping sauce. Sebenarnya guacamole berasal dari Meksiko, tapi memang jadi terkenal banget di negara-negara Amerika Latin lainnya. Di Chile, alpukat dimakan untuk side dish, appetizer dan main dish. Ada juga yang menggunakan alpukat untuk sarapan. Jadi, dibuat lebih creamy kayak selai gitu dioleskan ke roti.

Etsy.com

Bayar tips di restoran itu gak wajib

Setiap ke restoran atau kafe di Chile, saat kamu menerima struk pembayaran, pasti akan ada tulisan TIPS distruknya secara langsung. Bahkan ada beberapa restoran yang udah ada tulisan tips tapi ada tulisan lagi service fee. Di Chile, bayar tips-nya bisa dibilang cukup mahal sih, kadang ada yang 10% – 20%, tapi sebenarnya kita enggak wajib bayar tips-nya. Apalagi kalau memang pelayanannya engga bagus atau kurang memuaskan. Terkadang kita bayar tips-nya bisa setengah tarif yang dikenakan, karena sebenarnya, makan atau nongkrong-nongkrong di kafe atau restoran di Chile itu mahal juga, lho!

Banyaaak anjing besar (tapi ramah) setiap 50 meter

Buat si penakut hewan ini pasti tantangan besar banget buat jalan-jalan sendirian di Chile. Khususnya sewaktu aku travelling di Punta Arenas, Patagonia. Sumpah ya, itu anjingnya segede-gede pinggang manusia, berbulu, sangar banget tapi karena saking besar dan gemuknya, mereka tipe-tipe anjing pemalas gitu dan kerjaannya geletakan aja di trotoar jalanan. Rata-rata memang anjing liar aja, tapi dibiarkan hidup di jalanan, engga ditangkep-tangkepin atau dijual, tapi memang penduduk disana, cukup ramah hewan banget, dog-friendly. Mereka bakalan sharing makanan dengan anjing-anjing liar tersebut, kalau mereka datang ke depan rumahnya.

But surprisingly, waktu aku lagi nginep di daerah Puerto Natales, aku jatuh cinta banget sama anjing penunggu di hostel aku dan suami menginap! Namanya, Motty (tapi aku panggil dia Ciripa, mirip sama anjing yang di telenovela) dan dia super manja banget. Awalnya juga aku tetap dong takut sama anjing ini, tapi lama-lama kita semakin akrab dan rasa takut aku sama anjing jadi sedikit berkurang, sejak dekat sama Motty ini. We miss you, Motty!

Hi, I am Motty!

Merasakan musim panas di bulan Desember & Januari

Ini juga sih salah satu yang paling aneh, karena sudah terbiasa hidup dan tinggal di Indonesia dan Perancis kali ya. Jadi, mindset aku tuh kalau musim panas ya sekitar bulan Juni hingga Agustus. Tetapi lain cerita di Chile, musim panas dimulai dari bulan Desember hingga Februari. As a first timer in Chile dan di Amerika Latin, sempat kaget juga dengan perubahan iklimnya. Waktu itu aku berangkat dari Paris dan naik pesawat langsung ke Santiago, ibukota Chile. Bayangkan ya, pas berangkat aku full winter costume, sewaktu di pesawat juga aku pakai baju dobel dan sweater. Eh, sampai Santiago, temperaturnya 33 derajat celsius, dong! Apalagi pas jalan-jalan ke pusat kota Santiago, ternyata panasnya benar-benar semirip itu sama Jakarta.

Lebih anehnya lagi, sehabis transit di Santiago selama beberapa jam, akhirnya aku melanjutkan penerbanganku ke wilayah agak selatan di Chile, yaitu wilayah Patagonia. Which is anginnya kenceng banget dan anehnya, walaupun saat itu musim panas tapi udaranya segar dan bersih banget, temperaturnya juga kisaran 10-15 derajat celsius setiap harinya. Ya, tapi karena memang posisinya sangat dekat dengan Antartika, jadi siklus angin dan iklimnya sangat terpengaruhi oleh benua Antartika (Kutub Selatan).

Kalau kalian gimana? Hal-hal tidak biasa apa saja yang sering kalian temukan kalau lagi travelling?

Related Post:

What to do ‘8 Tips while 8 Hours Transit in Santiago

Met Our New Friends in Isla Magdalena, Chile…. the Penguins!

5 Comments

    • Astrid

      Hehe iya, seru banget! Bener-bener, pasti sama kayak Australia & NZ ya, karena sama-sama di belahan bumi bagian selatan.
      Aku belum pernah ke Australia atau NZ jadi, studi bandingnya sama Chile aja hehe.

  • VINDRI PRACHMITASARI

    Hal-hal kayak gitu yang sering banget dikangenin saat traveling. Sesuatu yang nggak biasa di Indonesia, belum tentu di luar kayak gitu atau pun sebaliknya. Dan itu selalu menarik banget untuk dilihat. Kayak di Yangon Myanmar, yang orang-orang masih pakai sarung walaupun ke sekolah atau pun ngantor dan selalu pakai bedak dingin buat sun creen mereka. Ahh.. jadi kangen traveling, semoga pandemic ini cepat ilang deh heheh

    • Astrid

      Amiiiiin, aku langsung amin-in banget deh doanya! Hehe. Anyways, iya betul banget itu serunya ya kalau lagi travelling!
      Thanks banget untuk infonya soal Myanmar, Mba. Semoga kita semua sehat-sehat terus ya dan bisa travelling lagi! Aku sih pengen banget
      pulang ke Indo lagi nengok keluarga kalau pandemik ini berakhir, huhu..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: