Living in France 101 : 11 Hari Lockdown, Apa yang Terjadi di Perancis?

Saat saya menuliskan blog ini, saya baru banget baca berita ada polisi militer (gendarmes) pertama yang meninggal dunia karena COVID-19 di Perancis dan hari ini juga kami yang berada di Perancis sedang melalui 11 hari lockdown. Lalu, apalagi yang terjadi disini? Melanjutkan dari post saya sebelumnya, kali ini saya mau update cerita lagi tentang COVID-19 atau coronavirus; bagaimana situasi terkini di kota saya tinggal, juga situasi di Perancis pada umumnya.

Sedikit update per hari Kamis, 26 Maret 2020 jumlah kasus di Perancis sendiri saat ini sudah mencapai 25.624, dengan jumlah kematian sekitar 1.333 dan jumlah pasien yang telah pulih saat ini sekitar 3.907. Dibalik kecemasan, keprihatinan dan ketakutan, karena angka kasus positif-nya bertambah 18.919 kasus dan angka kematiannya juga bertambah dari 187 hingga 1.333 terhitung sejak tanggal 17 Maret lalu, namun sedikit berita baik karena ternyata disini yang sudah sembuh sudah hampir mencapai angka 4.000.

Dari data diatas, Perancis menempati urutan ke-7 dengan kasus coronavirus terbanyak di seluruh dunia, setelah Cina, Italia, Amerika Serikat, Spanyol, Jerman dan Iran. Meanwhile, di Indonesia sendiri saat ini sudah menginjak angka 893 kasus positif. Saya sangat berharap, Indonesia dapat belajar dari negara-negara lain yang jumlah kasusnya meningkat sangat tajam hanya dalam waktu seminggu saja, tentu dengan tidak menganggap enteng dan remeh kasus ini.

Oke, balik lagi dengan update situasi disini.

Sejak diberlakukan lockdown atau dalam bahasa Perancis disebut dengan le confinement pada tanggal 17 Maret 2020 lalu, tentu banyak perubahan dan hal-hal yang terjadi di Perancis. Pemerintah disini sepakat untuk memberlakukan kebijakan yang sama seperti yang diterapkan di Italia, Jerman dan negara-negara Eropa lainnya, yaitu memberlakukan denda kepada seseorang yang masih keluar rumah, tanpa alasan yang jelas. Jadi, orang-orang disini WAJIB untuk membuat surat pernyataan secara individual (l’attestation individuelle) jika ingin keluar dari rumah.

Sejauh ini setidaknya terdapat beberapa kondisi khusus yang diizinkan oleh Pemerintah bagi seseorang yang ingin keluar rumah, diantaranya:Berpergian untuk bekerja yang mengharuskan seseorang untuk bekerja diluar rumah; Berbelanja bahan-bahan pokok seperti pangan dan sanitasi, konsultasi kesehatan dengan praktisi kedokteran, urusan keluarga yang sangat mendesak (untuk merawat orang lansia atau mengasuh anak-anak), aktifitas olahraga & merawat hewan peliharaan (dilakukan secara individu, tidak berkelompok, dengan batas waktu hanya 1 jam dan jarak tidak lebih dari 1 km dari tempat tinggal), panggilan pengadilan/terkait dengan administrasi hukum; dan partisipasi dalam misi kepentingan umum atas permintaan otoritas pemerintahan.

Denda yang diterapkan beragam, mulai dari 135 Euro hingga 3.000 Euro, tergantung berapa kali seseorang sudah ‘ditilang’ oleh pihak berwajib tentunya. Dendanya ini engga dibayarkan secara langsung ke polisi ya, engga kayak kita ditilang di Indonesia, melainkan kita akan diberikan tiket yang menjelaskan bagaimana cara membayar denda tersebut via bank transfer. Karena ternyata, mulai banyak penipuan di beberapa kota disini, ada beberapa orang yang menyamar menjadi polisi dan langsung memberikan denda kepada orang-orang yang masih berkeliaran di luar, parahnya mereka langsung minta uang secara langsung.

Gila ya, kadang suka mikir orang-orang jahat kayak gini, yang memanfaatkan orang lain di saat musibah seperti ini, engga punya hati atau otak atau engga punya keduanya ya? Bener-bener gak habis pikir sih, sama sebenarnya kayak orang-orang yang meningkatkan harga jual suatu produk berkali-kali lipat hanya karena produk tersebut lagi high demand.

Sigh.

Oke, balik lagi. Kenapa pemerintah memberlakukan denda yang begitu besarnya? Karena ternyata setelah diberlakukan lockdown total, masih banyak banget orang-orang Perancis yang seakan cuek dan tidak peduli (engga beda jauh kok bebelnya kayak di Indonesia) banyak dari mereka yang malah masih berolahraga di taman yang juga ramai orang, banyak yang tidak tertib dengan tetap berpergian ke pasar tanpa menjaga jarak mereka (physical distancing) dan sebagainya.

Kami sendiri, saya dan suami memilih keluar rumah 1 kali seminggu sekadar untuk jogging, laundry dan membeli persediaan sayur dan buah-buahan di supermarket terdekat yang sengaja kami lakukan dalam hari yang bersamaan. Berhubung kami tinggal di kota kecil, jadi jarang banget kami bertemu dengan pihak kepolisian yang mengontrol kami ketika berada di luar rumah, tapi daripada harus bayar denda sebesar itu, lebih baik selalu siap sedia untuk bawa surat pernyataannya kemana pun kami pergi.

Oh ya sekarang dikebanyakan tempat seperti di supermarket, toko khusus sayur dan buah, toko daging, toko roti dan beberapa apotik masih buka. Namun, setiap toko memberlakukan peraturan yang berbeda, diantaranya; seluruh pengunjung toko wajib menggunakan hand sanitizer sebelum masuk, membatasi jumlah pengunjung tergantung dari ukuran toko tersebut, pembayaran wajib menggunakan Kartu ATM, menjaga jarak saat berbelanja dan melakukan pembayaran di kasir minimal 1 meter. Hampir semua staff di toko-toko diatas selalu menggunakan masker dan sarung tangan latex saat bekerja.

Terhitung sejak kemarin, Pemerintah juga memberlakukan untuk menutup seluruh open air market di wilayah Perancis. Kebanyakan orang Perancis itu such a big fans of the open air market. Gak heran kalau banyak dari mereka yang sedih banget! Padahal hari sabtu lalu, suami masih belanja di pasar, soalnya selain harganya murah, sayur dan buah-buahan pun juga lebih fresh. Suami soalnya sangat selektif kalau udah belanja soal sayur dan buah, harus yang katagorinya produk Bio. Apalagi itu Bio? Saya sudah pernah menjelaskan sedikit mengenai produk bio di Perancis, bisa dilihat disini:

Tonton vlog: Groceries Shopping

Selain itu yang bikin agak sedih sebenarnya pas tahu kalau Pemerintah juga memberlakukan pelarangan pergi ke pantai dan hutan, karena kami tinggal hanya jalan 2 menit dari pantai. Jadi, terkadang kami suka jalan-jalan di sekitar pantai untuk berolahraga, menghirup udara segar dan refreshing, tapi memang saat ini mengesampingkan ego pribadi demi kemaslahatan orang banyak sangat dibutuhkan.

Mengutip pernyataan Presiden Macron beberapa lalu,

“…saat ini Perancis dalam keadaan “perang” menghadapi musuh yang tidak terlihat, sulit dipahami dan berada sangat dekat di sekitar kita.”

Saya sangat setuju, kita benar-benar tidak bisa memprediksi dan tidak bisa menerka-nerka soal virus ini. Karena banyak orang-orang yang dinyatakan positif coronavirus, merasa bahwa mereka dalam keadaan sehat dan tidak memiliki gejala coronavirus sama sekali. Inilah yang baru saya pelajari, kalau orang yang memiliki keadaan seperti ini adalah asymptomatic.

Bahayanya, orang ini sangat berpotensi menjadi carrier virus tersebut, kepada kelompok yang lebih rentan, juga orang-orang yang memiliki imun yang lemah. Ini yang saya takutkan sebenarnya, walaupun saya bersyukur sampai dengan detik ini, saya dan suami masih dalam keadaan sehat-sehat.

Saya yakin engga ada negara yang siap untuk menghadapi situasi seperti ini, even negara yang paling maju seperti Amerika Serikat ataupun seperti di Perancis pun juga tidak siap dan terlihat ketar-ketir menangani kasus besar seperti wabah virus ini. Pertaruhan besar yang harus mereka relakan adalah lumpuhnya sektor perekonomian, berbanding terbalik dengan kebutuhan perekonomian yang melonjak drastis, khususnya dalam sektor kebutuhan dasar dan sektor kesehatan. Walaupun mungkin di beberapa aspek, jika dibandingkan dengan di Indonesia, Pemerintah Perancis mengambil langkah yang terbilang cukup responsif dan cepat. Walaupun akibat dari adanya pandemik ini, Perancis akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan perekonomian kepada Komisi Eropa sekitar 300 miliar Euro dalam keadaan darurat ini, yang ditujukan untuk kebutuhan di sektor kesehatan juga ganti rugi bagi perusahaan UKM kecil dan menengah selama pandemik ini berlangsung.

Disamping itu, beberapa hari lalu, sebagian kota di Perancis juga sudah mengambil inisiatif untuk memberlakukan Jam Malam (couvre-feu) untuk mengoptimalkan lockdown. Larangan keluar malam ini diberlakukan setidaknya sampai tanggal 31 Maret 2020 dan setiap kota memiliki aturan durasi waktu yang berbeda, rata-rata sekitar 21.00 – 05.00 pagi. Bagi yang melanggar, dendanya akan sama dengan yang saya sebutkan diatas tadi.

In the meantime, sebenarnya kita harus mencoba melihat dari sisi positif lain dari adanya pandemik ini, (I mean daripada kita selalu melihat aspek buruknya yang semakin hari selalu bikin kita paranoid sendiri) dengan adanya lockdown ini di beberapa negara di dunia, ternyata emisi gas rumah kaca dan polusi menurun secara signfikan lho, khususnya di Cina dan Italia. Akibat dari berkurangnya sektor industri dan penerbangan yang sangat drastis. Kalau di Perancis sendiri, saya sempat lihat di berita kalau di Paris juga mengalami penurunan polusi udara juga sebesar 20-30% pada hari pertama lockdown ini dilaksanakan. Walaupun memang mungkin enggak akan permanen ya, tapi setidaknya untuk saat ini kita bisa sedikit memulihkan keadaan bumi kita.

Lalu, sampai kapan lockdown di Perancis akan berlangsung?

Pemerintah sudah memberikan pernyataan di beberapa kesempatan kalau lockdown ini akan diperpanjang, meskipun belum ditetapkan berapa lama, tetapi sangat memungkinkan dalam waktu 4-6 minggu kedepan. Karena memang sebenarnya, 2 minggu tidak cukup untuk melihat seberapa efektif pemutusan rantai penularan virus ini. Logically, beberapa penambahan jumlah kasus yang terjadi saat lockdown ini mulai diterapkan, merupakan hasil sebelum lockdown dilaksanakan di Perancis. Hal ini yang tentu belum terlihat di dalam kurva apakah sudah landai dan stabil atau belum.

Dari adanya pandemi ini saya seringkali refleksi, mungkin memang kita semua sedang ‘diajarkan’ dan ‘diingatkan’ kembali bahwa bumi kita sudah terlalu lelah dengan berbagai macam produksi industri massal dan jumlah penerbangan yang tinggi setiap hari yang menyebabkan polusi udara dan tingginya kandungan emisi gas rumah kaca. Selain berikhtiar dan berdoa, jadikan ini juga sebagai pengingat, kalau manusia dan bumi juga harus beristirahat sejenak. Kita jadi ada banyak waktu di rumah dengan orang tua, suami/istri dan anak-anak. Terpenting lainnya, kita jadi lebih aware dengan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan.

Saya masih bersyukur banget sampai dengan detik ini, di kota saya tinggal tidak ada kasus positif coronaviruswhile beberapa kota di sekitar kami sudah ada beberapa kasus. Selain itu, keluarga dan teman-teman saya di Jakarta juga sehat-sehat semua.

Harapan saya tetap sama, semoga aja kita semua selalu sehat lahir batin juga dilindungi dari segala musibah dan wabah penyakit! Boleh minta amin-nya?

Related post: Living in France #3 : [COVID-19] Bagaimana Perancis menanggapinya?

2 Comments

  1. Halo pertama kali berkunjung kemari.
    Tema tentang Prancis sangat menarik..nostalgik…Disana pun dinyatakan perang melawan pandemi…
    Btw, kota kecilnya dimana, mba?

    Salam hangat

    1. Halo, terima kasih sudah berkunjung!
      Iya walaupun Prancis sudah mulai sedikit demi sedikit recovery, tetapi situasinya lumayan genting masa-masa awal confinement, karena termasuk 4-5 negara dengan kasus terbanyak.
      Saya tinggal di daerah Normandy, tepatnya di kota Dieppe, dekat laut La Manche.
      Salam kenal juga ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: