Living in France 101 : Perjalanan menjadi ‘Vegetarian’?

Udah lama banget ternyata gak sharing cerita soal gimana kehidupan aku di Perancis. Kayaknya tulisan kali ini akan aku dedikasikan untuk berbagi cerita soal perjalanan aku yang tiba-tiba jadi ‘vegetarian’. Dan, banyak banget teman-temanku yang memang bertanya-tanya, kenapa sejak menikah dan tinggal di Perancis aku sering banget post makanan yang plant based meal. Well, gak usah temen-temenku, keluarga juga heran gitu kalau aku bisa bertahan makan makanan vegetarian setiap harinya.

But yes it’s true. I could say that now, I am a vegetarian.

Well, occasionally.

Jadi, begini asal muasal ceritanya. Sejak pertemuan pertama aku dan suami, kita bertemu di restoran Subway di stasiun kereta api di Toulouse, kota bagian Selatan di Perancis. Ended up, kita ternyata berada di destinasi kota yang sama, satu kereta yang sama, bahkan satu gerbong yang sama. Bedanya cuma saya di lantai atas, dia di lantai bawah. Singkat cerita, saya sempat bertanya makanan favoritnya dan apakah dia makan babi atau engga. Sampai akhirnya dia bilang, dia itu vegetarian sejak dia masih kecil. I guess that was my first time I met with someone that trully a vegetarian.

Turns out, setelah kenal deket dengan suami, aku tahu kalau kebanyakan keluarganya itu vegetarian. Ibunya seorang vegan, even often, she is dedicated most of her life to eat raw fruits and vegetables instead. Nah, sejak menikah dan hidup bersama suami disini, otomatis gaya hidup aku juga berubah, terutama soal makanan. Lebih sehat tentunya. Tapi jangan salah kaprah, vegetarian itu tetap kok makan telur, keju, cokelat, minum susu, pokoknya produk turunan hewan itu masih sering kita konsumsi setiap harinya, hanya saja memang presentasenya tidak banyak.

Awalnya berat banget, apalagi sejak kami tinggal bersama. Sejak itu pula, aku selalu menyediakan telur di rumah, karena itu satu-satunya produk hewani yang bisa aku makan. Sebenarnya suami pun gak pernah melarang aku untuk makan ayam, any kind of seafood, etc. Tetapi aku mencoba untuk menghargai suami untuk tidak memakan produk hewani di tempat tinggal kami.

So yes, by the time goes by, we finally make a deal. I can eat either chicken, beef, seafood but only when we are going out to the cafe or restaurant.

Di setiap pertemuan keluarga atau kalau misalnya lagi nginep di tempat mertua, seringkali aku juga ikut-ikutan jadi vegan, karena often Ibu mertua selalu masak everything vegan. Karena sebenarnya, Ibu mertua juga udah bener-bener stop makan apapun yang berbahan dasar produk turunan hewani. Believe me, it-is-always-a-very-hard-situation. Tapi ya aku menghargai dan seringkali bersyukur, karena aku tahu makanan yang aku makan udah jelas sehat dan HALAL. Namanya juga cuma makan sayur dan buah. Surprisingly, beberapa menu makanan vegan yang Ibu mertua sajikan, malah ada yang jadi one of my favorite.

Hmmm… tapi namanya cobaan pasti ada aja ya kan dimana-mana. Buka media sosial ngeliat posting-an teman-teman atau influencer yang lagi makan ayam geprek, pecel lele, martabak telur, burger, mie ayam bakso, sushi dan sebagainya, pasti bikin ngiler. Walaupun beberapa kali saking lagi kepengen banget makan makanan Indonesia, akhirnya nyoba sendiri buat masak in a vegetarian way. Dan syukurnya, enak + suami suka!

Itulah kenapa lama-kelamaan, akhirnya aku semakin terbiasa. Somehow merasa bersyukur juga malah punya suami yang vegetarian dan very mindful and thoughtful soal makanan dan nutrisi apa aja yang masuk ke dalam perut kami. Buat aku yang sempat melakukan operasi pengangkatan kantung empedu pada tahun 2016 lalu, sebenarnya being a vegetarian ini salah satu upaya baik. Karena memang dokter menganjurkan aku untuk mengatur pola makan setelah pengangkatan kantung empedu.

That’s why I always thinking is actually we are meant for each other. God knows what I really need for my better life. Jadi, Dia akhirnya mempertemukan kami berdua for a reason.

By the time, ikut suami jadi vegetarian, aku jadi belajar juga kandungan buah-buahan dan sayur-mayur dari suami ku. Karena aku juga ada anemia, terkadang kalo memang lagi menstruasi yang heavy, tubuh ku bisa super lemes banget, muka pucet, kayak gak sanggup ngapa-ngapain pokoknya. Jadi, suami langsung nyiapin makanan dan minuman yang memang kandungannya aku butuhkan untuk boosting hemoglobin dan zat besi di dalam darah selama menstruasi.

And that’s just one of the positive side.

Setelah melihat lingkungan sekitar disini, aku jadi lebih sering observe kenapa orang-orang disini bisa sangat disiplin untuk menjaga kesehatan dan lingkungan mereka. Dari keluarga suami juga aku banyak belajar, kenapa mereka memilih untuk menjadi vegetarian. Bahkan aku juga dikasih buku-buku basic knowledge kenapa kita memilih menjadi vegetarian. Orang-orang vegetarian yang aku temui disini, sejujurnya they have a very thoughtful mind. Mereka sangat tahu dan sangat sadar, kenapa mereka akhirnya memutuskan untuk menjadi vegetarian. Dan, ‘ilham’ itulah yang sampai dengan detik ini masih belum aku dapatkan, walaupun sejujurnya aku mulai enjoy being vegetarian.

Jadi, beberapa alasan yang memang aku teliti dari orang-orang yang memilih menjadi vegetarian ini diantaranya:

  1. For the sake of their health. Tentu menjadi vegetarian itu bisa mengurangi beberapa resiko penyakit terbesar, yaitu; penyakit jantung, kanker, tumor, juga sangat membantu untuk mengurangi kadar kolesterol dalam tubuh. The rest, you can Google it!
  2. Reduce global warming. Yep, menjadi vegetarian itu salah satu upaya untuk menyelamatkan keberlangsungan bumi kita juga, yaitu dengan mengurangi efek gas rumah kaca. Banyak orang yang memilih menjadi vegetarian salah satu alasan terbesarnya karena ini, their basic needs adalah untuk menciptakan pola makan berkelanjutan, sekaligus menghindari dampak negatif lingkungan dari adanya produksi daging. Kenapa? Karena peternakan secara keseluruhan bertanggung jawab paling tidak sekitar 18% dari emisi gas rumah kaca secara global, bahkan katanya lebih besar dari gabungan polusi antara mobil dan truk di seluruh dunia. Hmmm..
  3. They just simply love animals. Aku rasa bagi teman-teman disini yang memiliki peliharaan anjing, kucing, burung dsb pasti mengerti dan memiliki perasaan yang kuat terhadap binatang. Gampang sedih, takut dan marah kalo melihat ada binatang yang diperlakukan buruk, dimasak hidup-hidup, bahkan ada yang mengonsumsi binatang hidup-hidup. For this, I can recommend you to read a book “Why We Love Dogs, Eat Pigs and Wear Cows”-nya Melanie Joy atau nonton film Okja karya Bong Joon-ho. You will relate.
  4. To live longer. Walaupun kita semua tahu ya kalau namanya panjang usia itu gak ada yang bisa memperkirakan dan sudah ada yang mengatur, tapi kalau kita memang bisa ‘mengontrol’ panjang usia kita dari apa yang kita konsumsi, why not? Jadi, menurut penelitian Michael F. Roizen, MD, penulis buku “The Real Age Diet: Make Yourself Younger with What You Eat”, kalau seseorang melakukan vegetarian diet, mereka akan hidup 13 tahun lebih lama dari orang yang pemakan daging. Karena menurutnya, mengkonsumsi banyak produk hewani dapat menyumbat pembuluh darah kita, juga memperlambat sistem kekebalan tubuh kita, lho!

Sebenarnya banyak banget manfaat once someone decided to be a vegetarian. Tapi lagi-lagi kembali ke pandangan masing-masing orang ya. Jadi, even aku belum officially being a vegetarian, tetapi aku banyak belajar dari orang-orang di sekitarku. Walaupun, jelas kangen banget yang namanya makan ayam atau seafood ya. Karena aku sebenarnya not a big fans of red meat udah dari lama. Satu-satunya produk daging yang aku suka dari dulu dan gak pernah bisa nolak ya bakso (hahaha, perut Indonesia banget kan?)

Aku pernah dalam sebulan, gak makan makanan hewani sama sekali disini. Rasanya? Biasa aja sih cuma ya memang lebih guilty free sama rasanya lebih ringan aja, gak ngerasa kenyang yang berlebih. Sekarang selama sebulan aku makan produk langsung hewani kayak ayam atau seafood bisa dihitung pakai jari salah satu tangan, sekitar 1-3 kali aja per bulan (bahkan keseringan maksimal 2 kali per bulan). Jadi, sekarang kalau lagi bener-bener pengen banget makan either ayam atau seafood, baru kita makan di luar. Sisanya kita selalu masak masakan vegetarian, either makan pake nasi, pasta atau kentang.

Aku gak berharap muluk-muluk sih dan belum menentukan target juga kira-kira kapan akan serius untuk jadi vegetarian atau vegan. Terpenting buat aku saat ini, setiap hari aku memang ngerasain banget aku jadi guilty free tiap makan plant based meal. Rasanya kayak, oke aku berkontribusi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, aku melindungi hewan, membantu melancarkan BAB setiap hari dan terpenting aku jadi lebih thoughtful dengan apa yang aku makan,

… and for this, I would like to say many thanks for my lovely husband.

Astrid

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: