Living in France 101 : [COVID-19 update] Bagaimana Perancis Menanggapinya?

“Total 6.664 kasus positif orang-orang terdampak coronavirus, 148 orang kematian di Perancis as of 17 March 2020” membuat Perancis menjadi Negara terbesar ke-7 dengan jumlah kasus terbanyak di dunia, setelah Cina, Italy, Iran, Spanyol, Korea Selatan dan Jerman.”

Data diambil dari “Coronavirus COVID-19 Global Cases by the Center for Systems Science and Engineering (CSSE) at Johns Hopkins University (JHU)”

Semoga saat saya menuliskan blog ini, kalian dalam keadaan baik-baik dan sehat ya. Setelah sekian lama gak menulis blog, akhirnya saya memutuskan untuk menulis lagi dengan judul yang mungkin terlihat agak lebih serius dari biasanya. Yes, kali ini saya mau mencoba berbagi mengenai ongoing issue yang sedang ramai dibicarakan sejak akhir Desember 2019 lalu.

Apalagi kalau bukan COVID-19 outbreak.

Sedikit throwback, sejak melihat video kota Wuhan lockdown akibat coronavirus ini beberapa bulan lalu dan semua orang menyemangati satu sama lain from their apartment, jujur saat itu saya ikutan sedih dan perihatin. Tetapi saat itu gak ada terbesit di pikiran saya sedikit pun, kalau ternyata hal tersebut kini juga terjadi disini. Di Perancis, di salah satu negara maju yang ada di dunia. Di salah satu negara di Eropa yang katanya lingkungan dan udaranya bersih, sehingga seharusnya minim penyakit. Tapi ternyata virus itu tidak mengenal seberapa bersih udara dan lingkungan, apalagi warna kulit, kebangsaan, maupun agama dan keyakinan kita. Semua orang bisa kena, tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan.

Anyways, saya gak akan jelasin panjang-panjang mengenai virus ini, karena saya yakin sudah banyak media, Youtube, dll yang sudah sangat informatif mengenai virus ini. Kesempatan kali ini, saya mau coba berbagi informasi dan situasi terkini dari Perancis, negara dimana saya tinggal saat ini.

Saya dan suami tinggal di kota Dieppe, kota kecil yang terletak di departemen Seine-Maritime, wilayah Normandie. Bisa dilihat di map, kalau kota yang kami tinggali terletak di ujung Utara wilayah Perancis berbatasan dengan La Manche atau English channel. Dari berita yang kami dapatkan per tanggal 15 Maret 2020, di daerah Normandie sendiri sudah ada hampir 150 kasus positif COVID-19. Angka yang terbilang cukup tinggi untuk wilayah yang berukuran 30.627 kilometer persegi atau sekitar 5% wilayah negara Perancis. Namun, saat ini saya masih bersyukur di kota saya, belum ditemukan kasus positif COVID-19 (insya Allah, jangan sampai ada ya).

Namun, ada 2 departemen di Perancis yang memang menjadi perhatian khusus sejak bulan Februari lalu, yaitu di Haut-Rhin dan Oisel. Keduanya juga sudah di karantina mungkin sekitar sebulanan ini, karena jumlah kasus positif COVID-19 terbanyak di Perancis. Peningkatan jumlah kasus coronavirus ini meningkat sangat drastis sejak tanggal 24 Januari 2020. Per harinya kasus dapat meningkat hingga 400 lebih.

Lalu tindakan apa saja yang dilakukan oleh Pemerintah Perancis untuk menangani dan mengatasi kasus coronavirus disini?

Langkah awal yang dilakukan oleh Pemerintah Perancis pada saat coronavirus mulai beredar di Cina adalah memulangkan warga negara Prancis yang tinggal di provinsi Hubei, dengan penerbangan langsung dari Wuhan disertai oleh tim medis, lalu melakukan karantina penumpang selama 14 hari pada tanggal 31 Januari 2020, 2 dan 9 Februari 2020. Ketiganya telah melewati masa karantina selama 14 hari tersebut dan terbukti negatif dari coronavirus. Lalu, perusahaan maskapai penerbangan Air France menangguhkan seluruh penerbangan langsung dari Cina, khususnya Wuhan, sejak awal bulan Februari 2020 lalu.

Sejak 24 Februari 2020 lalu, pemerintah mengaktivasi 70 pusat kesehatan di markas besar SAMU (layanan medis darurat). Setidaknya sekitar 107 pusat kesehatan dapat menerima pasien positif coronavirus. Jadi, pemerintah menyarankan bagi orang-orang yang memiliki symptoms coronavirus untuk tidak langsung pergi ke Dokter atau ke Rumah Sakit, untuk menghindari penularan, jika memang benar dinyatakan positif. Melainkan untuk menghubungi SAMU ini dan mereka yang akan mengirimkan praktisi kesehatan ke rumah/apartemen untuk mengecek keadaan kalian.

Disamping itu, pemerintah juga meningkatan kapasitas diagnostik biologis dan memesan beberapa juta masker tambahan khusus bagi praktisi kedokteran. Walaupun, bisa dibilang sejak bulan Januari lalu, seluruh apotik di Perancis juga kehabisan produk masker dan hand sanitizer. Awalnya, desperate juga sih karena lihat postingan teman-teman di media sosial, banyak dari mereka yang menggunakan masker, even petunjuknya sudah sangat jelas, bahwa yang menggunakan masker sebaiknya adalah untuk orang-orang yang sakit, agar penyakitnya tidak menularkan kepada orang-orang yang dalam kondisi sehat.

Pada hari Kamis, 12 Maret 2020 lalu, Presiden Macron mengumumkan secara resmi untuk menutup tempat penitipan anak (crèches), sekolah dan universitas secara nasional yang terhitung sejak hari Senin, 16 Maret 2020 hingga waktu yang belum dapat ditentukan. Juga, meminta perusahaan untuk memberlakukan work from home bagi seluruh karyawannya. Hal ini dilakukan karena sudah ada beberapa bukti yang menunjukan bahwa di beberapa kasus transmisi virus terjadi diantara pelajar dan guru atau dosen, maupun antar sesama pekerja kantoran, sehingga penting untuk memutus rantai penularan pada ranah publik ini.

Sesaat setelah Presiden Macron mengumumkan hal diatas, barulah terlihat kepanikan dari beberapa orang di Perancis. Mereka mulai untuk membeli barang-barang kebutuhan bahan pokok, seperti makanan, minuman, sanitasi, dll, sehingga di supermarket banyak kategori barang yang langsung kosong karena ludes diborong warga. Beberapa diantaranya, seperti; bahan pasta, beras, susu hingga toilet paper.

Sehari kemudian menyusul keputusan Perdana Menteri Perancis untuk menutup museum, monumen, perpustakaan umum dan tempat wisata di Paris dan sekitarnya. Museum Louvre, Museum Orsay, Disneyland, Istana Versailles, Menara Eiffel, dsb, termasuk untuk menutup seluruh kafe, bioskop, restoran, klub malam, klub olahraga, dll, sampai waktu yang belum dapat ditentukan kembali.

Meniadakan semua acara dan pertemuan yang memungkinkan berkumpulnya orang-orang sekitar 50 orang lebih (#socialdistancing). Namun, tempat-tempat seperti supermarket, pom bensin, apotik, bank akan tetap beroperasi, karena dianggap sebagai tempat-tempat esensial yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Tujuannya tentu untuk menjaga jarak atau meminimalisir kontak fisik antar seseorang dengan orang lainnya (social distancing) yang memungkinkan transmisi atau penularan virus dengan cepat.

Tidak hanya sampai disitu. Sejak hari Sabtu lalu, 14 Maret 2020, kebijakan baru juga dibuat dalam ranah transportasi publik. Pembatasan jumlah armada transportasi publik; pelarangan untuk melakukan komunikasi dengan supir bis jika tidak diperlukan; pelarangan untuk naik bis melalui pintu depan bagian supir, harus melalui pintu tengah dan belakang; meniadakan penjualan tiket langsung dengan supir bis, pembelian tiket bisa dilakukan via SMS atau online. Meskipun tentu akan lebih baik untuk tetap beristirahat dan bekerja di rumah untuk beberapa waktu ke depan.

Hari Minggu, 15 Maret 2020 akhirnya pemerintah Perancis mendeklarasikan bahwa saat ini Perancis pada tahap ke-3. Artinya, pemerintah menutup semua akses di seluruh perbatasan Perancis.

Walaupun jumlah kasus terdampak coronavirus ini terus meningkat setiap harinya, ternyata masih banyak juga penduduk Perancis yang tidak patuh dan disiplin terhadap peraturan yang diberikan oleh Pemerintah. Hari Minggu lalu, masih banyak ditemukan laporan-laporan yang menunjukan masih banyak orang-orang yang berkumpul di taman untuk berjemur, berjalan-jalan di sekitar sungai Seine, hingga berbelanja di pasar. Alhasil, Pemerintah Perancis memutuskan untuk menutup seluruh taman dan kebun mulai hari Selasa, 17 Maret 2020.

Hal ini yang membuat Presiden Macron memutuskan untuk melakukan pengurungan wajib bagi seluruh warga negara Perancis dalam pidatonya malam ini pada tanggal 16 Maret 2020, setidaknya sampai dengan 15 hari kedepan. Hanya orang-orang yang berkewajiban untuk bekerja diluar, individu yang berolahraga (tidak dalam keadaan berkelompok) dan orang-orang yang ingin berbelanja bahan makanan yang boleh keluar rumah. Itupun harus tetap menjaga jarak paling tidak 1 meter antara satu dengan yang lain. Dan yang terpenting, tetap menjaga kesehatan dan kebersihan masing-masing.

Untuk mempertegas peraturan ini, pemerintah Perancis bersepakat untuk menetapkan denda yang akan diberikan kepada warga Perancis yang tidak patuh terhadap peraturan diatas; mereka tidak segan-segan untuk mengenakan denda mulai dari 38 hingga 135 Euro. Setidaknya 100.000 polisi akan dikerahkan untuk melakukan pengawasan terhadap peraturan ini.

Beberapa langkah juga diambil untuk meringankan rumah sakit dan sektor medis di Perancis, Presiden Macron mengumumkan akan melakukan distribusi prioritas masker hari Selasa, 17 Maret 2020 ke staf rumah sakit dan dokter ke seluruh 25 departemen dan kota yang paling terpengaruh, departemen lain akan dilayani mulai hari Rabu.

Pemerintah Perancis juga menyediakan pinjaman bank korporasi sebesar 300 miliar bagi perusahaan dan pebisnis. Bahkan bagi perusahaan yang menghadapi kesulitan akibat dari coronavirus ini, tidak akan membayar apa-apa, baik pajak, kontribusi jaminan sosial, serta melakukan penangguhan tagihan untuk air, gas atau listrik dan sewa.

Pemerintah juga telah memutuskan untuk mengurangi transportasi jarak jauh secara drastis, dengan lalu lintas kereta api dan hanya “beberapa penerbangan internasional” yang diperbolehkan. Perusahaan kereta api SNCF juga meminta staffnya untuk tidak melakukan pengontrolan atau pengecekan tiket di dalam kereta. Hal ini dilakukan untuk melindungi pekerja kereta api, khususnya untuk memperlambat penyebaran coronavirus.

Selain itu, negara-negara Uni Eropa (terutama yang masuk dalam wilayah Schengen) memutuskan untuk menutup wilayah mereka untuk warga negara asing paling tidak untuk waktu 30 hari, kecuali bagi orang-orang Prancis yang saat ini berada di luar negeri dan berkeinginan untuk dapat kembali ke Perancis.

Apakah ini berlebihan? Lebay? Terkesan terlalu menakut-nakuti?

I will definitely say NO. It’s not exaggerated. Gak lebay dan bukan untuk menakut-nakuti. Tetapi ini langkah yang sangat dibutuhkan paling tidak untuk saat ini. Saya setuju kita tidak boleh panik berlebih, namun jika kita benar-benar menuruti untuk tetap tinggal at least dalam waktu 15 hari di dalam rumah, kita sudah membantu begitu banyak kesehatan dan nyawa orang-orang yang ada di sekitar kita, bahkan kita dapat memperlambat hingga memberhentikan rantai penularan virus ini.

Mungkin sekarang bagi keluarga, teman-teman yang ada di Indonesia, tindakan seperti diatas masih banyak yang belum menganggapnya serius atau urgent, mengingat jumlah kasus yang benar-benar sudah terdeteksi positif coronavirus masih di bawah 200 kasus. Namun, seharusnya apa yang sudah terjadi di beberapa Negara tetangga, hingga Negara-negara di Eropa, dengan meningkatnya jumlah kasus orang-orang yang terkontaminasi virus ini dengan sangat cepat, dapat menjadi pembelajaran bagi pemerintah juga masyarakat Indonesia untuk melakukan pencegahan virus ini sedini mungkin, sebelum terlambat dan semakin tak terkendali.

Menurut saya pribadi, melakukan pengecekan suhu badan hanya dengan termometer yang saat ini sedang digalakkan mungkin hampir di seluruh gedung perkantoran, shopping mall dan sebagainya di Indonesia, tidak cukup untuk mendeteksi apakah seseorang terekspos coronavirus atau tidak. Karena banyak sekali kasus yang ada, baik di Perancis maupun di negara-negara lain, kebanyakan dari mereka merasakan kalau mereka dalam keadaan sehat, berawal dengan tidak demam, tetapi kemudian mereka dinyatakan positif memiliki coronavirus. Pemerintah Indonesia harus melibatkan banyak praktisi profesional yang memang piawai dalam menangani kasus coronavirus ini, pemeriksaan secara menyeluruh wajib digalakkan kepada seluruh warga negara, namun tetap dalam koridor prinsip-prinsip hak asasi manusia. Terpenting, saat ini untuk menggalakkan #socialdistancing, #workingfromhome dan belajar #dirumahaja untuk memutus rantai penularan coronavirus, paling tidak dalam waktu 15 hari ke depan.

Mengutip kata-kata yang dilontarkan oleh Presiden Macron malam ini:

“During 15 days of social distancing, you are not only protecting yourself (and recent developments have shown that no one is invulnerable, including the youngest) but you also protecting others. Even without having the symptoms, you may infect your friends, your parents, and endanger the health of those people who you loved the most.”

Emmanuel Macron

Selain itu, selama mengikuti terus pemberitaan mengenai perkembangan kasus coronavirus sejak bulan Januari lalu, ada beberapa catatan mengenai pemberitaan kasus ini oleh media nasional di Perancis, yang sejujurnya membuat saya menaruh simpati pada media Perancis dan juga Pemerintahan disini.

Kenapa? Simply karena informasi yang kita dapatkan sangat cepat, real time, up to date, transparan, very well-explained, edukatif dan sangat scientific berupa data angka dan grafik. Semua sektor pemerintahan dan pihak rumah sakit juga bekerjasama dengan sangat baik demi memberikan informasi dan solusi terbaik bagi publik. Disamping itu pemberitaan oleh media disini juga sangat menghargai data pribadi dari semua korban atau pasien yang positif terdampak coronavirus. Jarang sekali saya membaca, mereka menyebutkan dengan detail profil dari pasien coronavirus, terkecuali kalau ternyata mereka adalah tokoh maupun figur penting disini (orang pemerintahan, dll).

Walaupun ada juga sisi negatif yang tentu menjadi kekhawatiran kita bersama, terutama saat wabah coronavirus ini mulai merebak di wilayah Perancis. Terdapat beberapa laporan dan cerita yang menyatakan bahwa orang-orang Asia beberapa kali mendapatkan perlakuan diskriminatif, terutama orang-orang yang berkewarganegaraan Cina, Korea dan Jepang. Mereka dianggap sebagai pembawa virus, padahal kebanyakan dari mereka memang sudah lama menetap di Perancis. Sebagai imbasnya, beberapa teman Indonesia yang juga seringkali dianggap “Chinese”, hanya by physical look, juga mendapatkan perilaku yang tidak baik.

I guess it’s not the time for us to pointing on other people. Stop blaming and shaming people.

Please keep being smart people. Jauhkan dulu sifat acuh tak acuh dan ketidakpedulian kamu, at least demi orang-orang sekitar yang kamu cintai. Saya berbagi informasi ini agar keluarga dan teman-teman saya juga well-informed dengan apa yang terjadi di Perancis. Ambil baiknya, buang yang jelek-jeleknya. Mungkin gak semua kebijakan yang diadopsi di Perancis juga bisa diaplikasikan di Indonesia, namun yang terpenting saat ini kita harus setidaknya aware terhadap sesama. Jaga jarak terutama dengan kelompok rentan, seperti; orang lanjut usia, penyandang disabilitas, ibu hamil dan anak-anak.

Stop panic-buying, belanjalah seperlunya paling tidak cukup untuk sekeluarga selama kurun waktu 15 hari. Tidak perlu berlebihan untuk memborong semua bahan pangan, toilet paper, produk sanitasi dan lain-lainnya, sehingga orang-orang lain yang juga membutuhkan tidak dapat membelinya. Be a smart-buyer! Kemanusiaan kita sedang diuji dalam kasus ini, so jadilah kamu sebaik-baiknya manusia untuk manusia lainnya.

Yang gak kalah penting, jaga kesehatan dan kebersihan tubuh. Gak hanya minum vitamin C, tetapi perbanyak konsumsi sayur-mayur dan buah-buahan. Cuci tangan sesering mungkin, gak usah merengek hanya karena kehabisan hand sanitizer. Karena sesungguhnya sabun batangan atau sabun mandi normal lebih baik jika dibandingkan penggunaan hand sanitizer. Kalau memang di rumah aja, demi melakukan pengiritan penggunaan hand sanitizer, lebih baik untuk cuci tangan langsung dengan sabun.

Hitung-hitung olahraga kecil bolak-balik ke kamar mandi kan?

Oh ya satu lagi, bagi kalian yang tinggal di apartemen atau rumah yang memiliki teras/taman/balkon atau setidaknya mendapatkan pencahayaan sinar matahari yang baik hingga ke dalam rumah, sempatkanlah untuk berjemur paling tidak pada waktu-waktu sekitar 09.00 – 14.00 siang (paling tidak selama 15 menit). Karena waktu-waktu tersebut memiliki kandungan sinar UVB yang kemudian merangsang sel-sel kulit untuk memproduksi vitamin D di dalam tubuh. Vitamin D ini yang juga penting dan berperan dalam menjaga sistem kekebalan tubuh agar kuat melawan virus dan bakteri penyebab penyakit dan infeksi. Terlebih jika kalian tinggal di Negara 4 musim, saat transisi dari musim dingin ke musim semi seperti saat ini adalah salah satu waktu yang baik untuk berjemur.

Lalu perbanyak berdoa. Karena sebaik-baiknya usaha belum lengkap kalau belum berdoa, begitu juga sebaliknya. Semoga kita semua dijauhkan dari segala penyakit dan virus.

Sampai jumpa di hari ke-15!

Astrid

Sumber berita:

https://www.gouvernement.fr/info-coronavirus

3 Comments

  1. Halo, saya mau live update terkait jumlah kasus coronavirus di Perancis per tanggal 18 Maret 2020, pukul 21.05 waktu bagian Perancis yaitu sekitar 9.052 kasus. Stay safe and healthy everyone! <3

  2. […] Related post: Living in France #3 : [COVID-19] Bagaimana Perancis menanggapinya? […]

  3. […] Related post: Living in France #3 : [COVID-19] Bagaimana Perancis menanggapinya? […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: